Ngomongin soal generasi stroberi nih, pasti pada kesel. Kenapa sih generasi ini keliatan bagus banget, tapi sekalinya jatuh, langsung memar. Kenapa berbeda dengan generasi kita yang tahan banting? Kenapa sedikit-sedikit mengeluh?
Sebagai orang tua, pasti kita mengalami seperti ini. Kadang bingung juga, harus diapain sih anak ini biar tahan banting seperti kita?
Kita tahu seperti apa kejamnya dunia, seperti apa persaingan di depan yang tidak main-main. Jangan sampai anak kita malah gagal sebelum mulai berperang. Apalagi karena semua sekarang sudah serba instan.
Nah, lantas bagaimana agar mereka bisa berkembang? Apalagi di sebuah perusahaan.
Saya belajar dari podcast dr. Indrawan Nugroho dengan pemateri Ferro Ferizka, direktur eksekutif dari Pijar Foundation.
Sebagai seorang ibu di perusahaan dan di rumah, saya harus mulai memberikan kepercayaan pada anak-anak. Bagaimana mereka diberi pekerjaan yang awalnya ringan untuk melihat kinerjanya bagus atau tidak. Jika bagus, kita bisa memberikan pekerjaan yang lebih berat, begitu seterusnya secara berkala. Tentunya juga dengan memberikan bonus yang sesuai dengan kinerja mereka.
Kita tanamkan lagi bagaimana harus gotong royong, saling membantu, sopan santun, saling menghormai, dan juga bertanya jika tidak mengerti. Biasanya saat dijelaskan, bilangnya ngerti, bilangnya paham, tapi di praktiknya malah zonk.
Bagaimana jika kinerja mereka buruk? Kalau anak sih, langsung saya gembleng ulang. Dia harus bisa lebih tinggi dan lebih hebat daripada saya.
Kalau karyawan, mereka tidak bisa mengikuti ritme kita, ya tunjukkan pintu di mana mereka bisa lewat. Jangan sampai menjadi buah busuk di dalam perusahaan. Jangan jadi matahari untuk mereka yang tidak suka cahaya pagi. Mengapa ya disebut dengan generasi stroberi atau disebut generasi milenial?
====
Anisa AE
Owner AE Publishing
