Anisa AE – Empat bulan berlalu semenjak pengumuman kelulusan. Waktu keberangkatan ke Prancis semakin dekat. Untuk mengisi waktu yang kosong, Sandra membantu Tante Nela di butik. Upah yang diberikan lumayan. Sandra jadi memiliki budget untuk perawatan wajah rutin. Hasilnya tidak mengecewakan. Jerawat di wajah Sandra hilang perlahan. Bekas lubang jerawatnya pun sedikit
teratasi. Untuk meraih kecantikan, memang tidak ada cara yang instan. Sandra sangat memahami itu.
Tidak seperti teman-temannya yang sudah mulai kuliah bulan depan, Sandra mulai kuliah tahun depan. Banyak persiapan yang harus Sandra lakukan, termasuk kursus bahasa. Namun, dalam waktu dekat Sandra akan berangkat, agar memiliki waktu yang lebih banyak untuk menyesuaikan diri.
Kini, Sandra tengah asyik mendesain sebuah gaun di kantor Tante Nela. Mama masuk dan duduk di hadapan Sandra sambil menyerahkan segelas kopi hangat.
“Lagi konsentrasi penuh, ya?” ujar Mama, memecah kesunyian.
Sandra tersenyum, lalu mengangguk. Sementara tangan kanannya masih lihai menyapu pensil warna pada kertas.
“Kadang, Mama pengen bisa keluar bareng sama kamu. Jalan-jalan ke mana gitu, setidaknya sebelum kamu berangkat. Tapi, kerjaan masih numpuk,” keluh Mama.
“Iya. Maaf, ya, Ma? Sandra belum bisa kasih yang terbaik buat Mama. Belum bisa bahagiain Mama,” balas Sandra.
“Mama bahagia kok. Di tengah keterbatasan ekonomi kita, Mama bisa melihat anak Mama kuliah di luar negeri. Semoga cita-cita kamu untuk menjadi desainer akan tercapai,” ucap Mama. “Oh iya, bagaimana kabar Rimanda? Mama dengar, dia keterima di fakultas kedokteran, ya?”
Sandra melengos. “Jangan bahas dia, Ma. Sandra males!”
Mama menghela napas. Tentu ia tahu permasalahan yang tengah dihadapi putrinya kini. Tanpa berbicara sepatah kata pun, Mama keluar dan kembali pada pekerjaannya. Sandra pun kembali tenggelam dalam dunia desainnya. Sebuah desain gaun kebaya model terbaru akan segera Sandra selesaikan.
“Haruskah kamu membenci sahabatmu hanya karena cinta monyet, San?” tanya Mama.
Sandra bergeming, pura-pura tak mendengar. Mama mengangkat bahu, lalu beranjak. Percuma. Sandra tak akan mau bicara. Ia paham betul karakter putrinya itu. Sekali dikecewakan, maka selamanya luka itu akan membekas. Sama seperti dirinya. Sekali dikecewakan Wisnu, suaminya, luka di hati mama Sandra tak begitu saja hilang. Semakin hari, luka itu semakin menggerogoti, memaksa pikiran untuk memikirkan strategi balas dendam. Namun, Mama bukan orang seperti itu. Ini adalah takdir.
Sandra melirik kala mendengar sepatu wedges yang dikenakan mamanya terketuk-ketuk di lantai. Sepasang matanya menyipit, menyertai pikiran yang merekam ucapan mamanya tadi. Cinta monyet? Sandra rasa, perasaannya pada Edwin bukan cinta monyet
semata. Tidak dipungkiri, sudah berkali-kali Sandra merasa tertarik dengan lawan jenis. Namun, saat menatap Edwin, rasanya lain. Hatinya menggebu, seperti ingin meluapkan untaian kata yang entah seperti apa rupanya. Cinta memang rumit. Sandra merasa gila karenanya.
Ponsel Sandra berbunyi, membuat gadis itu terpaksa menghentikan aktifitas. Sebuah telepon masuk. Sandra mengernyit kala mengeja satu-persatu huruf yang tertera pada layar ponsel. Rimanda. Sandra bimbang. Sudah lama sekali Rimanda tak menghubunginya. Ada apa gerangan? Sandra ingin mengangkatnya karena penasaran, tapi hatinya menolak kuat-kuat. Untuk apa lagi Rimanda datang dalam kehidupannya? Untuk menghancurkannya lagi? Namun, nurani Sandra terketuk, membuat telunjuknya menekan tombol answer.
“Ada apa, Rim?” tanya Sandra, tanpa basa-basi.
Tidak terdengar apa pun selain isakan. Sandra terperenyak. Mungkinkah di sana Rimanda menangis? Namun, kenapa?
“Kamu kenapa, Rim?” tanya Sandra lagi.
“San … kamu … di mana?” Rimanda bertanya balik dengan kalimat tersendat bercampur isakan.
“Aku ada di Anella Boutique. Kenapa?”
“Aku butuh kamu, San. Sekarang aku ada di depan rumahmu,” jawab Rimanda.
Sandra terdiam. Dasar sahabat palsu! Giliran senang saja ingat padanya. Ke mana saja perasaan Rimanda saat menyakiti Sandra? Dalam hati, Sandra ingin mengirim jutaan sumpah serapah untuk mantan sahabatnya itu. Namun, ia juga penasaran dengan apa yang terjadi pada Rimanda sampai menangis seperti itu.
“Oke. Aku akan pulang sekarang. Kamu tunggu di sana, ya?” putus Sandra.
Telepon pun diakhiri.
***
Begitu taksi berhenti, Sandra tergopoh-gopoh keluar. Rimanda sudah menyambut dengan wajah memelas di depan pagar rumah Sandra. Penampilannya tampak kacau. Hanya setelan Babydoll gambar Doraemon yang membalut tubuhnya. Rambut keriting gantung yang menjadi kebanggaan Rimanda pun tampak sangat kusut. Wajahnya? Jangan ditanya. Pucat dan sayu seperti orang sakit, apalagi dihiasi mata sembab seperti kebanyakan menangis. Satu yang aneh dari diri Rimanda. Tubuhnya tampak lebih berisi, terutama perutnya.
“Kamu kenapa, Rim?” tanya Sandra seraya mendekat.
Tanpa basa-basi lagi, Rimanda menghambur memeluk Sandra dan menumpahkan tangis di bahunya. Sandra terperangah antara salah tingkah dan merasa aneh. Kebencian dan dendam masih menjalar, memaksa Sandra untuk melepas pelukan itu dengan paksa.
Namun, Sandra masih memiliki hati, sehingga dua tangannya terulur, membalas pelukan Rimanda.
“Lebih baik kamu masuk dulu. Ceritakan di dalam,” ajak Sandra. Rimanda mengangguk.
Rimanda mengikuti langkah Sandra ke ruang tamu. Sandra menyilakan Rimanda duduk, sementara dirinya akan mengambilkan minum di dapur. Tak lama kemudian Sandra kembali dengan segelas air putih. Rimanda menerima dan meneguknya sampai habis.
Sepertinya beban batin yang dialami gadis ini benar-benar dahsyat. Namun, Sandra masih belum bisa menerka, apa yang sebenarnya terjadi pada diri Rimanda.
“Kamu gemukan ya, Rim?” ujar Sandra basa-basi. “Pasti senang dong keterima di fakultas kedokteran. Cita-citamu akan tercapai.”
Sebelah bibir Rimanda terangkat, memaksakan senyum yang tampak miris.
“Aku nggak akan jadi dokter, San,” jawab Rimanda lirih.
Sandra mengerutkan alis. “Kenapa? Kamu kan sudah diterima. Kenapa nggak akan jadi dokter?” kejarnya.
Rimanda menggigit bibir. Kali ini, tangisannya pecah. Ia meraung, sambil sesekali memukuli tubuhnya sendiri. Sandra melongo, bingung harus berbuat apa.
“Aku memang bego, San! Bodoh! Aku udah ngecewain semuanya! Aku nggak mau hidup lagi!” maki Rimanda di tengah isakan tangis.
“Jangan ngomong kaya gitu! Sebenarnya apa yang terjadi, Rim? Semua masalah bisa diatasi dengan—”
“Aku hamil, San!” potong Rimanda. Lebih tepatnya, ia menjerit.
Sandra melongo. Speechless. Apa dirinya tak salah dengar? Rimanda hamil? Hamil dengan siapa? Refleks, Sandra menutup bibir
dengan kedua tangan.
“Kamu hamil dengan Edwin?” selidik Sandra.
Rimanda mengangguk. Dunia Sandra seakan runtuh. Apa ini termasuk strategi Rimanda? Membuat dirinya hamil dan memberitahu Sandra sekaligus menertawakannya? Play victim di hadapan Sandra untuk meraih simpati? Tidak! Tidaaaaak …! Sandra menutup dua telinganya. Ini pasti bohong! Jika ucapan Rimanda benar, tidak menutup kemungkinan Rimanda dan Edwin akan segera menikah.
“Apa Edwin tahu?” tanya Sandra tajam.
Rimanda mengangguk.
“Lalu, apa masalahnya? Bukankah dengan ini kau bisa mengajaknya menikah?” Ada tawa miris di sela-sela kalimat Sandra. Entah menertawai Rimanda, atau menertawai kehancurannya.
“Edwin pun bingung. Orang tuaku juga belum tahu. Aku bingung, San. Aku harus bagaimana? Kalau aku hamil, aku nggak mungkin kuliah kedokteran. Tapi, aku belum siap menjadi ibu. Aku—” Rimanda menutup wajahnya. “Aku benar-benar bodoh!”
“Ya, kau memang bodoh!” Nada suara Sandra meninggi. “Kau bilang belum siap jadi ibu, tapi mau melakukannya di luar nikah, apalagi dengan Edwin. Kau tahu, Rim? Kau menyakitiku lagi!”
“San!” bentak Rimanda sambil berdiri. Telunjuknya menuding tepat di hadapan wajah Sandra. “Aku ke sini untuk mencari solusi! Bukan mendengar ceramahmu! Aku sudah hancur! Hancur! Hanya kamu yang kupunya, lantas kenapa kamu malah menghakimiku?
Apa salahku kalau Edwin tidak mencintaimu? Apa salahku kalau kamu terlihat menyedihkan, sehingga mengemis cinta dari seorang Edwin? Asal kau tahu, Edwin adalah ayah dari janin yang kukandung, San! Janin yang membuatku dilema. Kupertahankan, atau kugugurkan!”
Kembali Rimanda tertunduk dan menangis sejadi-jadinya, membuat Sandra kehabisan kata-kata. Ingin rasanya Sandra menumpahkan amarah yang belum tuntas, tapi tak tega melihat keadaan Rimanda yang seperti ini.
“Rim….” Suara Sandra bergetar. “Aku tidak bisa membantu. Hanya bisa kasih saran. Jangan bertindak bodoh. Kau harus beritahu orang tuamu tentang ini. Kalian sudah berani berbuat, maka bertanggung jawablah,” saran Sandra.
Rimanda menyeka air mata.
“Tapi, perasaanku pada Edwin tidak akan berubah, Rim. Tidak akan pernah. Apa pun status kalian nanti, aku tetap akan menganggap kau meminjam Edwin dariku. Hanya meminjam!” tegas Sandra, membuat Rimanda bingung.
“Apa maksudmu, San?”
“Kupikir kau cukup cerdas untuk mencerna kalimatku tadi, Rim!”
Sebelah tangan Rimanda terkepal. Ia menghentakkan kaki dan segera keluar dari rumah Sandra. Sebelum sampai di ambang pintu, Rimanda berbalik dan menatap tajam mata Sandra.
“Kupikir kau masih memiliki hati, sekalipun parasmu seperti Upik Abu. Tapi, aku salah! Kau tak lebih dari nenek sihir yang mengerikan, San!” tegas Rimanda, lalu segera pergi.
“Nenek sihir? Huh!” Sandra mengibaskan sebelah tangan, lalu duduk di sofa dengan senyum lebar.
“Kau benar, Rim. Namun, satu hal yang kau lupa. Nenek sihir memiliki kekuatan untuk mengubah dirinya menjadi cantik. Lihat saja nanti.”
Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, dan G+, ya? Kalo info ini bermanfaat buat kamu. Nanti akan langsung saya follback buat yang komentar langsung. Bisa juga follow twitter @anis_sa_ae dan FP Anisa AE biar dapat update info tiap hari ^^v