Surat Terbuka untuk Afi Nihaya Faradisa

45 thoughts on “Surat Terbuka untuk Afi Nihaya Faradisa”

  1. Kebenaran yang sesungguhnya hanya milik Allah. Semoga kita bisa belajar banyak atas peristiwa ini, terlepas kebenaran yang sesungguhnya dipihak siapa hehe

  2. Setuju Mba Nisa,
    Netizen menantikan permintaan maaf dari Afi. Sayang akun medsosnya menghilang semua setelah persoalan plagiat ini mencuat.
    Terlepas dari benar/tidaknya dia plagiat, ini menjadi lecutan buat semua untuk tidak melakukan hal yang sama.
    Tapi rasanya kasus plagiat akan selalu ada di Indonesia ((semoga tidak)) tahun kemarin juga ada kasus plagiarism yang tulisannya dimuat di koran 😒😒 jika tidak ditindam tegas, mereka pasti merasa diatas angin.
    Na'udzubillahi min dzalik

  3. pasti orangtuanya nelongso ya mbak anak e diperlakukan seperti itu. terlepas seperti apa dia.thoh masih muda haruse dibimbing ya bukan dihakimi hikz

  4. Setuju Mbak. Bagaimana pun juga kebenaran dan kejujuran harus diutamakan. Namun di satu sisi saya juga tidak setuju dengan komentar yang terlalu mem-bully Dik Afi ini. Meskipun merasa benar, tidak etis jika penyampaiannya terkesan superior.

  5. Semoga bisa menjadi pelajaran buat kita semua. Tak ada manusia yang sempurna, yang penting kita mau menerima saran dan masukan dari orang lain untuk terus memperbaiki diri dan kesalahan.
    Salam kenal Mba' Anisa

  6. saya pribadi sama sekali tidak membencinya.. hanya sangat menyayangkan saja, mengapa harus menjadi plagiat… apalagi sempat masuk istana dan ketemu pak jokowi.. eman tenan…

  7. saya sendiri mengasihani cara berpikirnya Afi, di mata saya dia jelas-jelas liberal dan plural.

    Iman tak dapat diwarisi
    Dari seorang ayah yang bertaqwa
    Ia tak dapat dijual-beli
    Raihan..

  8. Aku juga udah mulai bosan pro kontra di medsos tentang Afi lagi hahhaa..yang jelas aku tidak sependapat dengannya mengenai agama warisan, cerita real Nabi Nuh saja tak mampu membuat anaknya beriman mengenai plagiatnya sejatinya Afi mengakui saja, saya lihat permohonan maafnya terkesan "Defence" dan sungguh sayang banget melihat responnya yang memuji dikolom komen ia balas sementara yang berikan kritikan ia balas sarkas bahkan block. terlepas dari itu semua hal ini jd momentum bagi saya sbg ortu untuk mengajarkan anak saya.

  9. Pada akhirnya semua akan menuai apa yang dia tanam, Afi sudah membuat langkah berani menulis (menyebarkan) tulisan tentang agama warisan tersebut dan menimbulkan banyak reaksi. Trus ternyata ketauan kalau dia plagiat maka reaksi pun semakin dahsyat.
    Semoga Afi mendapatkan pencerahan dan bisa berkarya lebih baik lagi.

  10. Aku nggak begitu ngikutin ini banget mba Nis. .
    Hanya tau dari status nyinyiran kisah2 ini. Males jadinya οΏ½οΏ½οΏ½οΏ½
    Mudah2an Dek Afi Dan kita semua bisa ambil hikmahnya ya mba. Amin stop kebencian

  11. Jujur dan mau mengakui adalah sikap ksatria, dek. Justru kau akan lebih mulia dan siap melangkah dengan prestasimu yg tidak perlu copy paste. Semoga menjadi tempaan utk mendewasakanmu ya. *titip pesen di sini ya mba Nisa.

  12. iya mba aku jarang ikut yg kekinian. mikir2 dulu ada manfaat kebaikan nggak jika aku hrs sebar. klo cuma status meyerang mending aku kuras bak mandi sama cabutin rumput halaman. jadi nggak sia-sia πŸ™‚

  13. Aku juga termasuk yang ga bersuara dengan kericuhan ini. Walau dari awal membaca tulisannya ttg agama warisan, (yg aku kira adalah hasil renungannya), aku merasa sedih dan iba pd ayah ibunya. Dan dalam hati, apa yg sdh dibaca gadis belia ini? Kurangkah pembelajaran ttg akidah yang dibekali ayah ibunya, para gurunya sehingga membuatnya mudah beranjak ke pemikiran liberal spt itu? Kasian ayah ibunya…

    Lalu mencuat kabar bhw tulisan itu adlh jiplakan. Jd bukan hsl pemikiran sendiri. Oh, bisa jd anak ini hanya terbawa arus dan sdg ingin keren.

    Dan, 'mendadak seleb' yg dialaminya, di jiwa belia pula, membuatnya jumawa. Alih2 meminta maaf scr tulus (yg sebenarnya akan jd kunci emas dlm meraih simpati publik kembali pdnya), anak ini malah membuat tulisan pembenaran dengan 'menyelipkan' virus kebencian baru,dg 'menyeret'dan mengklaim bhw org lain pun tak terhindar dari lelaku plagiasi.

    Aih, Afi!

  14. Jujurnya aku ga ngikutin berita afi ini.. Tp gara2 rame, jd mau ga mau kadang membaca beberapa supaya ngerti masalahnya.. Bener mba, aku jg kasian ama orang tuanya.. Semoga aja marah para haters ga terlalu lama, dan afi tergerak utk minta maaf ya..

  15. Kalau saya intinya menghargai tumbuh kembangnya pemikiran dan pendewasaan seseorang. Karena setiap orang punya prosesnya masing-masing.
    Dan saya tetap menghargai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *