[vc_row][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10220″][/vc_column][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]Asalamualaikum wr.wb.
Selama pandemi ini masih banyak kabar kematian yang datang, bahkan PPKM pun semakin diperpanjang. Semakin bosan diri ini lama-lama di rumah saja, keperluan apapun kadang sudah dijangkau lewat online. Ya, dengan adanya pandemi teknologi semakin banyak mengalami kemajuan untuk membantu kita selama isolasi mandiri. Selama itu juga kita harus menghibur diri dengan apa yang ada di rumah, menulis menjadi salah satu jalan untuk tetap produktif saat pandemi. Nah, ngomong-ngomong tentang menulis kalian pasti tidak asing dengan empat karya sastra ini, puisi, prosa, prosais, dan senandika yang perbedaannya sulit ditentukan. Kali ini kita akan membahas perbedaan puisi, prosa, prosais, dan senandika tersebut.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Empat karya ini sulit dibedakan karena memiliki kesamaan, yaitu ungkapan perasaan yang disusun dengan kata indah. Nah, saat pertama kali mencoba menulis pasti bingung kalau diminta membedakan antara keempatnya. Apalagi pas sudah menulis, jadinya bingung ini termasuk karya apa. Saat di pantai tiba-tiba ingin nulis karena terbawa suasana, lahirlah karya dengan kalimat yang indah, tetapi itu dikatakan puisi, prosa, prosais, atau senandika? Saya pikir, ah ini sekadar coret-coret biasa yang melegakan hati. Jadi, apa perbedaan puisi, prosa, prosais, dan senandika?
Ide memang muncul secara tidak terduga, ya, tapi kalau situasinya seperti itu antara puisi, prosa, dan senandika, nih. Beda lagi kalau melihat film atau mendengarkan cerita, eh datang inspirasi untuk membuatnya ulang dengan gagasan dan Bahasa yang berbeda, bisa jadi prosa ini. Lho? Kok prosa, bukannya cerita? Nah, apa sih pengertian keempat karya sastra tersebut? Keempatnya menjadi bagian dari dunia sastra yang dikenal sebagai genre kepenulisan, sering kali taka da perbedaan di antaranya. Padahal keempat karya sastra ini memiliki ciri khas yang berbeda. Oleh karena itu, yuk bahas satu-persatu tentang empat karya sastra ini! Temukan perbedaan puisi, prosa, prosais, dan senandika.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Puisi
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Puisi adalah satu di antara bentuk karya sastra yang banyak disukai karena bahasanya yang indah dan bersifat imajinatif. Puisi dianggap sebagai rangkaian kata yang menggambarkan perasaan penulisnya, pesan yang disampaikan pun dirangkai dengan kata-kata yang indah. Tentunya, puisi ini juga berbeda dengan karya sastra lainnya seperti drama dan prosa. Puisi dibuat berdasarkan pengalaman hidup atau ide-ide kreatif yang bermakna. Ya, berikut ciri-ciri puisi:[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]
Ciri-ciri Puisi:
- Penulisan puisi dituangkan dalam bentuk bait yang terdiri atas baris-baris bukan dalam bentuk paragraf.
- Diksi yang digunakan bersifat kiasan, padat, dan indah.
- Penggunaan majas sangat dominan dalam Bahasa puisi.
- Pemilihan diksi dipertimbangkan karena adanya rima dan persajakan.
- Dalam puisi setting, alur, dan tokoh tidak ditonjolkan dalam pengungkapan.
[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10225″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10226″][/vc_column][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]
Unsur-unsur puisi:
- Diksi/pilihan kata.
- Majas adalah gaya Bahasa yang berbentuk kiasan.
- Rima/unsur bunyi merupakan satu pengulangan bunyi yang berselang dalam larik maupun akhir larik.
- Citraan/imajinasi.
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Jenis-jenis Puisi:
Para ahli puisi membagi puisi berdasarkan dua kategori, yaitu puisi lama dan puisi baru. Puisi lama meliputi; mantra, pantun, syair, karmina, gurindam, talibun, dan seloka. Sedangkan puisi baru dibagi menjadi berikut:
Baca juga: 5 Tips Membuat Mood Menulis dalam Keadaan Bagus[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]
Berdasarkan Isinya:
- Balada, berisi tentang cerita yang terangkum dalam tiga bait dengan masing-masing bait terdiri dari 8 larik. Inti dari balada sendiri adalah mengisahkan.
- Elegi, puisi yang menyampaikan kesedihan atas kematian atau kepergian seseorang.
- Epigram, berarti puisi yang berisi tentang nasihat untuk dijadikan pedoman hidup.
- Himne, berisi tentang pujian.
- Ode, puisi yang digunakan untuk menyanjung.
- Romansa, puisi yang digunakan oleh orang yang sedang jatuh cinta dan berarti tentang perasaan; persoalan kasih sayang.
- Satire, berarti sindiran, kecaman, atau ketidakpuasan hati.
[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]
Berdasarkan bentuknya:
- Distikon, puisi dua seuntai yang setiap baitnya terdiri dari dua baris.
- Terzina, tiga seuntai yang setiap baitnya terdiri dari 3 bait.
- Kuatrain, empat seuntai yang setiap baitnya terdiri dari empat bait.
- Kuint, lima seuntai yang setiap baitnya terdiri dari lima bait.
- Oktaf/Stanza, setiap bait terdiri dari delapan baris atau disebut puisi delapan seuntai.
- Sektet, setiap bait terdiri dari enam baris.
- Septime, tujuh seuntai yang tiap bait terdiri dari tujuh baris.
- Soneta, puisi yang terdiri dari empat baris dan terbagi menjadi dua, yaitu dua bait pertama dengan masing-masing empat baris dan dua bait kedua masing-masing tiga baris.
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]Contoh Puisi:
Aku Ingin
Karya: Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
1989[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10224″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Prosa
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Nah, karya sastra ini berbeda dengan puisi dan pantun. Prosa merupakan karya sastra yang berbentuk cerita yang bebas dan tidak terikat oleh rima. Karya sastra ini lebih banyak menggunakan kata dengan makna denotasi daripada konotasi di mana Bahasa yang digunakan adalah Bahasa sehari-hati. Kata prosa sendiri berasal dari Bahasa latin “Prosa” yang artinya “Terus terang”. Tulisan jenis ini biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide.
Umumnya, prosa dibagi dalam dua bentuk, yaitu prosa lama dan prosa baru. Prosa lama adalah prosa Bahasa Indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat seperti hikayat, kisah, sejarah, dan dongeng. Sedangkan prosa baru adalah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apa pun seperti novel, cerpen, Riwayat, kritik, resensi, dan esai.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]Ciri-ciri Prosa:
- Memiliki alur cerita
- Memiliki tema
- Ada tokoh dan penokohan
- Memiliki sudut pandang
- Memiliki latar dalam penceritaan
- Terdapat konflik
- Memiliki amanat
[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10223″][vc_column_text]Jenis-jenis Prosa
- Prosa Naratif
- Prosa Deskriptif
- Prosa Eksposisi
- Prosa Argumentasi, dibagi menjadi dua, yakni roman dan novel.
Baca juga: 6 Tips Menulis Novel[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Prosais
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]Pasti penyair mengenal puisi prosais, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia prosais berarti bersifat prosa. Prosa sendiri adalah karangan bebas yang tidak memiliki keterikatan aturan ikatan banyaknya baris. Jadi, puisi prosais adalah sebuah puisi yang tidak memiliki aturan keterikatan baris dalam sebuah paragraf.
Ciri-ciri Puisi Prosais:
- Mengisahkan cerita secara padat, padu, dan indah, tetapi melalui pilihan kata, larik, rima, dan ritme.
- Berbentuk paragraf
- Argumen puisi prosais bergenre puisi
[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10222″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Contoh Puisi Prosais:
Kamu Adalah Luka
Oleh Dhika dan Siti Papat
Ufuk petang kian mulai tergores. Membakar luka yang menggebu menjadi bara. Menyisakan untaian rasa yang berjuta makna. Aku padamu seperti angin yang berlalu saja. Sekejap, tidak untuk selamanya.
Rasa akan ikatan, melebur, membakar naluri menjadi bara api. Sejak jelas senja itu tiada, hatimu juga ikut tiada. Bukan sebabku kamu pergi. Namun hatimu yang memaksamu untuk pergi. Apakah dayaku, untuk menggenggammu terlalu lama.
Kecewa yang membuatku trauma, rasanya aku tak lagi punya rasa. Hati ini bagaikan kayu dimakan rayap. Cinta kau tak salah, hanya diri ini lah yang terlalu ambisi dengan kicauannya yang tak bermakna.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Senandika
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia senandika berarti wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar. Intinya, senandika adalah pengungkapan isi hati seseorang lewat tulisan, lebih singkatnya disebut curhat indah.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10221″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Contoh Senandika:
Kisah yang Salah
Oleh: Qonitia Lutfiah
Malam ini kulihat rembulan tersenyum lembut ke arahku yang tengah duduk. Menikmati petrikor yang baru saja berhenti menyisakan jejak-jejak luka. Dengan kuseduh ramuan rasa yang pernah ada di antara kita. Detik berikutnya, aku berdiri sembari memandang sesuatu.
Lalu, aku berjalan ke arah lemari tua yang memiliki beribu rahasia. Menjulurkan tanganku untuk menarik benda yang berhasil membuatku bergetar hebat. Perlahan kubuka lembar awal yang menampilkan wajah-wajah ceria tampak semangat. Hingga di pertengahan benda itu, aku terisak pelan karena bertemu dengan kisah yang salah.
Sehingga, aku berusaha untuk menempelkan tanganku pada dinding di bawah jendela kaca. Mengerjapkan mataku agar rindu ini tak menyiksa karena bersamanya aku pernah menjadi nirwana. Kemudian aku kembali duduk di tempat semula. Menyentuh dadaku yang tidak baik-baik saja. Kini aku tersadar bahwa semua kisah kita telah menjelma semu semata.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]



Kuterpikat sama senandika yang Mbak contohkan di atas.
Gimana ya bisa membuat seindah itu?
Terpesona dengan contoh senandika di atas. Perlu latihan berapa lama ya penulisnya sampai bisa menulis seindah itu?
Wah jadi lebih paham dengan perbedaannya, makasih mbak 🙂
Kalau tulisan karya Boy Candra diklasifikasikan ke dalam jenis apa? Senandika, kah? Seperti Jatuh dan Cinta, Sebuah Usaha Melupakan, dll, yang berisi kumpulan kata-kata.