[vc_row][vc_column][us_single_image image=”10842″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Hai Sobat, berita tentang erupsi Gunung Semeru yang meluluhlantakkan Lumajang, Jawa Timur dan sekitarnya pada tanggal 4 Desember 2021 kemarin, tepatnya di hari Sabtu. Tak hanya mengeluarkan asap tebal dari kawah Jonggring Saloko, tetapi Gunung Semeru juga mengeluarkan guguran awan panas. Dalam kejadiaan ini, hingga tanggal 7 Desember 2021 kemarin dikabarkan ada 22 warga yang dinyatakan meninggal dunia dan 22 orang masih hilang, dan puluhan orang mengalami luka-luka.
Di hari Sabtu seperti saat itu adalah waktunya kita pulang bekerja, tepatnya di sore hari turun hujan bercampur abu. Biasanya saat pulang merindukan rumah hari itu akan menjadi hari yang membahagiakan, tetapi kali ini malah mendapat kabar duka dari yang beredar di masyarakat.
buy levaquin online blackmenheal.org/wp-content/languages/new/us/levaquin.html no prescription
Ya, saat itu sudah banyak rekaman terjadinya erupsi di media sosial, bahkan diperkirakan erupsi itu terjadi di pagi hari saat banyak yang baru berangkat kerja.
Dari peristiwa ini banyak kisah memilukan tentang keluarga yang ditinggalkan, terlebih kisah Rumini dan ibunya yang meninggal dalam keadaan berpelukan. Kisah mengharukan yang menggambarkan kasih sayang antara ibu dan anak ini menarik perhatian netizen, ehem, tepatnya menyentuh hati semua orang.
buy stromectol online blackmenheal.org/wp-content/languages/new/us/stromectol.html no prescription
Semoga mereka tenang dan bahagia di surga-Nya. Masih banyak lagi cerita mereka yang saat itu ada di sekitar Gunung Semeru saat Erupsi.
Baca juga: Antara Saya dan Gunung Kelud[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][us_single_image image=”10843″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Legenda Gunung Semeru, “Paku Bumi” di Tanah Jawa
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Terdapat mitos dalam kitab Tantu Panggelaran yang menyebut Gunung Semeru sebagai bagian dari Gunung Meru yang berada di India. Kisahnya berawal dari Dewa Brahma dan Dewa Wisnu yang membawa bagian puncak Gunung Meru ke tanah Jawa untuk menjadi pasak bumi. Selain memindahkan Gunung Meru, para dewa pun memilih untuk menetap di Pulau Jawa.
Namun, saat itu Pulau Jawa dikisahkan masih terombang-ambing dan berguncang karena mengambang di lautan luas. Oleh karena itu, para dewa memaku Pulau Jawa dengan gunung sebagai paku bumi. Dikisahkan, gunung Semeru awalnya diletakkan di bagian barat, tetapi malah membuat Pulau Jawa bagian timur terangkat, sehingga gunung dipindahkan ke bagian timur. Dari sini, sepertinya awalnya tidak seimbang, sehingga kita dapat mengambil pelajaran sebelum menentukan sesuatu harus menyeimbangkannya dulu agar tidak berat sebelah, canda. Hehe.
Nah, saat dipindahkan ke timur pun serpihan gunung tercecer yang mengakibatkan adanya jajaran pegunungan di Pulau Jawa yang memanjang dari barat ke timur. Sayangnya, saat sudah dipindahkan ke timur Pulau Jawa tetap miring sehingga gunung dipotong sebagian untuk ditempatkan di bagian barat laut yang menjadi Gunung Penanggungan. Begitulah kocaknya asal-usul gunung di Pulau Jawa yang mirip dengan kehidupan kita, ehem.
Gunung Semeru disebut sebagai pinkakalingganingbhuwana, yang artinya lingga bagi dunia. Seperti yang kita tahu terdapat sebuah danau di sana yang bernama Ranu Kumbolo. Konon gunung Semeru menjadi tempat bersemayamnya Dewa Shiwa dan Ranu Kumbolo adalah pemandian yang memperindah pertapaannya.
Baca juga: Danau Gunung Tujuh, Danau Tertinggi yang Mempesona[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][us_single_image image=”10844″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Kini, di balik legendanya tersebut Gunung Semeru menjadi salah satu gunung yang sering dikunjungi para pecinta alam untuk melakukan pendakian. Gunung Semeru sendiri adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa yang memiliki jalur pendakian yang menantang untuk para pendaki. Kalian pasti tidak asing dengan Soe Hok Gie, ya, pendaki legendaris itu melakukan pendakian Semeru pertama kali di tahun 1838. Namun, orang pertama yang mendaki Gunung Semerru adalah GF Clingnett, seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda.
Gunung Semeru memang memiliki sejarah yang panjang, bahkan menjadi saksi kehidupan purbakala yang ditemukan, yaitu ada dua situs. Pertama, dalam prasasti Ranu Kumbolo dengan huruf dan berbahasa Jawa Kuno. Prasasti ini berasal dari awal abad XIII atau akhir abad XII Masehi. Dalam prasasti tersebut menjelaskan kunjungan seorang raja dari Kediri, Kameswara yang berziarah di pemandian suci di sekitar Semeru.
Kedua, purbakala tersebut berupa dua buah arca di Recopodo yang sulit dikenali karena kepala dan setengah badannya hilang. Arca ini berada di lerang utara kerucut Mahameru dengan wajah kedua arca menghadap ke selatan, setiap orang yang berhadapan dengan kedua arca tersebut pandangannya mengarah pada puncak Mahameru. Oleh karena itu, dua arca tersebut diduga sebagai wujud Dewa Siwa dan istrinya yang menurut kitab Tantu Panggelaran, Dewa Siwa menetap di Puncak Mahameru.
Baca juga: Menelisik Goa di Pangandaran Ada Temuan Fosil Manusia Purba
Perlu diketahui, jika puncak Gunung Semeru memiliki dua kawah, yaitu kawah Mahameru yang tidak aktif lagi dan kawah Jonggring Seloko yang masih aktif. Dalam cacatan yang ada, Gunung Semeru pertama kali meletus pada 8 November 1818 dan letusan besarnya pada 29-30 Agustus 1909.
buy augmentin online blackmenheal.org/wp-content/languages/new/us/augmentin.html no prescription
Letusan terbesarnya pada tahun 1909 tersebut menjadi bencana untuk Lumajang, tetapi datang lebih dahsyat pada tahun 1981 yang menewaskan ratusan pendidik di sekitar. Sampai pada tahun 1990 terjadi guguran kubah lava yang menghasilkan awan panas dan kawah Jonggring Seloka terbuka sampai sekarang.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][us_single_image image=”10845″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Tips Menghindari Bahaya Erupsi Gunung Berapi
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Dilansir dari kompas.com, menurut Cut Dwi ada dua macam bahaya saat Semeru meletus. Bahaya primer atau utama adalah baru, kerikil, pasir, dan debu panas yang dikeluarkan saat letusan. Panasnya bisa mencapai lebih dari 600 derajat celsius. Sedangkan bahaya sekunder, yaitu lahar dingin atau material piroklastik, yakni material vulkanis seperti pasir, kerikil, dan batu yang telah dingin. Tentunya, jika timbunan material ini terbawa arus air bisa menerjang apa pun dan menjadi bencana.
Mengingat Indonesia yang berada di gugusan gunung api yang berpotensi terancam letusan gunung berapi. Sekitar 127 gunung berapi aktif berada di wilayah barat sampai timur Indonesia. Oleh karena itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan jika terjadi erupsi gunung berapi. Sehingga untuk menyelamatkan diri saat erupsi kita harus mengambil langkah yang benar sesuai Pedoman Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) sebagai berikut:[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]
- Menghindari daerah lereng gunung, lembah, dan daerah aliran lahar yang rawan bencana.
- Ketika berada di tempat terbuka sebaiknya melindungi diri dari abu letusan gunung berapi.
- Tidak memakai lensa kontak yang akan menghalangi penglihatan karena abu vulkanik.
- Gunakan masker atau kain untuk menutup mulut dan hidung.
- Pakailah pakaian panjang untuk melindungi tubuh, tak lupa topi.
[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10846″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah letusan gunung berapi, yaitu:
- Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu vulkanik, karena bisa merusak mesin kendaraan.
- Menjauhlah dari wilayah yang terkena hujan abu.
- Jangan lupa untuk membersihkan atap dari timbunan abu vulkanik karena beratnya timbunan tersebut bisa merusak atap bangunan.
Baca juga: HPS, Hama Baru Paling Mematikan di Indonesia[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10847″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Nah, setelah mengetahui cara menghindari bahaya erupsi kita perlu mengetahui status Gunung Berapi. Setelah terjadinya letusan gunung berapi, biasanya BNPB mengeluarkan status gunung berapi yang bisa kita pantai di media massa. Berikut status yang dimaksud:
- Awas berarti gunung berapi yang segera atau sedang meletus. Letusan yang terjadi biasanya diawali dengan abu dan asap, memiliki peluang terjadi dalam waktu 24 jam. Oleh karena itu, disarankan wilayah dikosongkan karena terancam bahaya.
- Siaga menandakan gunung berapi sedang bergerak ke araah letusan atau memunculkan bencana. Data menunjukkan kegiatan bisa segera berlanjut ke letusan atau bisa menimbulkan bencana. Letusan tersebut bisa terjadi dalam dua minggu.
- Waspada, dalam status ini masih ada kegiatan dan kenaikan kegiatannya di atas level normal. Sedikit perubahan kegiatan yang diakibatkan oleh kegiatan magma, hidrotermal, dan tektonik.
- Normal berarti tidak ada gejala kegiatan tekanan magma, level kegiatan dasar, pengamatan rutin, survei, dan penyelidikan.
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]




Saat detik-detiknya meletusnya gunung ini udah tau banget, liat dari youtube bang ione dari yang nonton cuma 100an orang sekarang udah hampir 1 juta views.. Sayangnya bencana ini menimbulkan korban jiwa dan banyak rumah-rumah terdampak yaa.. Semoga bisa cepat pulih lagi dan beraktifitas seperti biasanya..
Ikut prihatin dengan musibah yang terjadi pasca erupsi Semeru.; Semoga keadaan semakin membaik dan membaik terus.