[vc_row][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10371″][/vc_column][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]Asalamulaikum wr.wb.
Pandemi sudah berjalan selama 1,5 tahun di mana kita merasakan selama itu pula berada di rumah, melakukan aktifitas sehari-hari, mulai dari bekerja hingga sekolah. Tentunya, kalian pasti merasa bosan menjalani kehidupan yang seperti itu-itu saja dari rumah, ingin keluar untuk jalan-jalan menikmati dunia seperti sediakala, tetapi sulit. Sampai kita mencari cara untuk tetap bahagia selama berada di rumah, nah, cara apa yang kalian untuk menghabiskan liburan panjang selama pandemi ini? Menonton film keluarga berjudul Arie Hanggara sepertinya cocok.
buy lexapro online https://healingtohappy.com/wp-content/languages/new/lexapro.html no prescription
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Menonton film menjadi kebiasaan saya dan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan saat berkumpul di rumah bersama. Ya, tentunya bersama anak dan anggota keluarga lain. Dalam situasi ini pastinya memilih film yang akan ditonton pun menjadi masalah besar, kira-kira film apa yang cocok untuk semuanya? Akhirnya pilihan jatuh kepada film bertema keluarga yang menginspirasi.
Ya, pilihan jatuh kepada kisah Arie Hanggara yang merupakan sebuah film drama Indonesia. Kisah ini diambil dari kisah nyata, film ini pun sutradarai Frank Rorimpandey. Juga dibintangi oleh Yan Cherry Budiono, Deddy Mizwar, Joice Erna, Anissa Sitawati, dan Cok Simbara. Nah, film ini mendapat penghargaan Piala Citra Pertama yang didapatkan oleh Deddy Mizwar sebagai Aktor Terbaik pada Festival Film Indonesia. Penasaran bagaimana, sih ceritanya, yuk, simak sinopsisnya![/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Sinopsis
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]Film ini bercerita tentang kisah nyata setelah warga Jakarta dihebohkan kasus meninggalnya seorang anak berumur 8 tahun yang bernama Arie Hanggara yang disebabkan penyiksaan orang tuanya. Media massa meliput penuh kabar ini. Film ini berkisah tentang seorang penganggur kelas berat Bernama Tino Ridwan. Sifatnya yang pemalas, tukang janji kelas kakap, dan pembuat anak yang kuat menyebabkan saudara dari pihak istrinya menggunjungnya sebagai lelaki yang hanya kuat membuat anak.
Tino tak punya kerjaan, tetapi harga dirinya tinggi, sedangkan Jakarta meminta terlalu banyak, karena itulah dia bersitegang dengan sang Instri, Dahlia. Akhirnya, Dahlia memilih kembali ke Depok dan Tino menitipkan anaknya ke rumah neneknya agar bisa diambil lagi setelah dia sudah hidup bersama dengan pacarnya yang bernama Santi.
Baca juga: Lindungi Anak Kita dari KDRT[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10368″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]Akhirnya Tino dan Santi serta tiga anak Tino dari istri pertamanya hidup di rumah kontrakan kecil. Ya, anak-anaknya Bernama Anggi, Arie, dan Andi. Sedangkan anak ketiga Bernama Arki dibawa oleh Dahlia. Tino pun sadar benar tentang profesinya sebagai penganggur, dia pun setelah mengantar istri ke kantor langsung melamar kerja. Namun, tidak bisa juga. Teman-teman dihubungi, tetapi semuanya menolak. Sedangkan di rumah rokoknya terus mengebul dan omongannya juga besar.
Tak khayal, Santi sudah mulai cerewet karena Tino tak mendapatkan kerja, dan anak-anak di rumah kian membandel. Oleh karena itu, Tino selalu menetapkan aturan yang keras kepada anaknya. Terlebih Arie Hanggara, si anak keduanya ini selalu membandel dengan aturan ini. Sosok Arie memang pendiam, tetapi diamnya malah meresahkan Tino.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10375″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]Sebenarnya Tino sayang dengan anaknya, Santi pun juga demikian. Namun, Santi mulai cerewet dan menyindir-nyindir Tino atas kenakalan anak-anaknya. Lama-kelamaan dia mulai kesal apalagi pada Arie.
buy cialis online https://healingtohappy.com/wp-content/languages/new/cialis.html no prescription
Awa;nya semuanya berkumpul di meja makan malam hari, Tino sudah memperingati dan memaklumkan aturan agar tidak nakal. Namun, Arie Hanggara tetap bandel dengan aturan itu hingga kerap dipukul oleh Tino. Santi pun ikut menghajar dengan menjambak rambut atau mengguyur sekujur tubuh Arie. Mulanya dipukuli, Arie masih mengaduh, tetapi lama-lama anak ini ketagihan dan seakan meminta dihukum. Lantaran takut melanggar, Arie sering berbohong.
Di sekolah, Arie jadi pendiam dan asosial maka dia menjadi bulan-bulanan. Beruntung, ibu gurunya sangat bijaksana, karena merasa sakit perilaku Arie sudah tak bisa diobati di sekolah SD Negeri, Tino pun berencana membawa Arie ke pesantren di Jawa Timur. Sayangnya, dia melakukan kesalahan lagi, tapi kali kesalahan kakaknya. Arie mengaku bahwa dialah yang melakukannya, bahkan dia minta digantung saja atau diikat agar tak nakal. Tino yang merasa ditantang mengikat tangan Arie, sedangkan Arie diikat dua saudaranya yang lain memberinya makan.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10370″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][us_single_image image=”10374″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Anehnya walaupun Arie mendapatkan perlakuan seperti itu, ia tak pernah menunjukkan dirinya mengalami tekanan mental. Bahkan, saat orang bertanya tentang luka di tubuhnya ia menjawab karena jatuh. Setelah disiksa, diminta menghadap tembok, kepalanya dibenturkan ke tembok, dan tidak diperbolehkan makan serta minum.
buy ventolin online https://healingtohappy.com/wp-content/languages/new/ventolin.html no prescription
Arie akhirnya tak berdaya, ia meninggal dunia dengan 40 luka yang menyebar di sekujur tubuh. Arie dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Di samping kanan dan kiri nisan ada tulisan “Maafkan Papa” dan “Maafkan Mama”. Ini sebagai wujud penyesalan mereka.
Kematian Arie menjadi duka nasional yang mengundang banyak perhatian masyarakat, bahkan sejumlah media menjadikannya sebagai kabar pertama. Kabar ini menyebar dengan cepat sampai Pemerintah sempat ingin memasang patung Arie Hanggara di depan kantor kementerian untuk mengingat peristiwa serupa agar tidak terulang. Namun, ibu kandungnya melarang karena mengganggap itu hanya akan mengabadikan luka.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]Namun, kisah ini berhasil diabadikan dalam film berjudul Arie Hanggara yang berhasil mengingatkan masyarakat. Tentunya, film ini menguras air mata karena menceritakan sosok Arie yang masih polos dan patuh. Sekilas Arie sebenarnya menyaksikan pertengkaran orang tuanya, bahkan sebenarnya Arie tidak berbohong. Walaupun begitu, film ini mengundang pertanyaan tentang kenapa Arie diakhir justru ingin dihukum, bahkan berbohong jika telah melanggar peraturan saat mendekati kematiannya.
Siapa yang tidak histeris melihat anak berumur 8 tahun ini dengan polosnya mengatakan ingin pergi jauh, ingin dipukul. Bahkan, suara lirihnya masih menggema di telinga. Kasus kekerasan seperti ini terus terjadi dengan alasan utama karena masalah ekonomi, hingga anak tak bersalah menjadi pelampiasan atas rasa frustrasi tersebut.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10373″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Seringkali kita temui anak yang bodoh dan bandel dipukul, serta dimarahi tanpa ampun. Bahkan, hampir setiap hari ada saja masalah seperti itu, tak lupa juga pertengkaran rumah tangga dan kondisi ekonomi yang melatar belakanginya. Ya, dengan alasan mendisiplinkan anak banyak orang tua yang melampiaskan kekesalan karena frustrasi dengan keadaan ekonomi. Setelah kejadian meninggalkan Arie ini pun masih banyak kejadian terulang. Oleh karena itu, kita harus menghindari risiko terjadinya kekerasan dan pelecehan pada Anak dengan tips berikut:
Baca juga: Wahai Orang Tua, Sayangi Kami[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]
- Bangun komunikasi baik dengan anak
Sering sekali kekerasan terjadi karena kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak yang menimbulkan kesalahpahaman, sedangkan orang tua terkadang memutuskan sesuatu tanpa mendengarkan penjelasan anaknya terlebih dahulu. Oleh karena itu, penting untuk membiasakan komunikasi yang baik dengan anak agar anak mempunyai kepercayaan kepada orang tuanya untuk menceritakan apapun yang terjadi padanya. Nah, ini menjadi bekal penting anak untuk mengungkapkan perasaan dan ini dimulai dari keluarga. Orang tua juga bisa selalu bertanya kepada anak tentang apa yang terjadi hari ini, bahkan siapa teman yang paling dekat dengannya. Tentunya, orang tua harus mengamati perubahan perilaku pada anak dan mendengarkan ceritanya penuh perhatian.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10376″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10377″][/vc_column][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]2. Berikan anak pengetahuan mengenai cara melindungi diri
Belakangan ini marak kejahatan fisik ataupun seksual yang terjadi pada anak dan ini membuat orang tua semakin khawatir. Namun, orang tua tidak bisa mengawasinya selama 24 jam setiap hari. Oleh karebna ini, orang tua perlu menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya secara tidak wajar.
Beri mereka pemahaman dan ajarkan untuk menolak perbuatan apa pun yang dirasanya tidak patut dengan berteriak ataupun lari meninggalkan tempat kejadian. Penting juga mengajarkan pada anak mengenai keberanian berbicara, mengungkapokan pendapat, berani melawan saat merasa terancam atau tidak senang dengan perilaku seseorang. Nah, ingatkan juga pada mereka agar tak mempercayai orang asing.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]3. Maksimalkan peran sekolah
Selain berfungsi sebagai tempat meuntut ilmu saja, sekolah juga mempunyai fungsi kontrol sosial, yaitu membantu penilaian terhadap perilaku anak. Tentunya penilaian dari wali kelas tentang kebiasaan dan tingkah laku anak sangat penting untuk dijadikan pertimbangan orang tua. Guru pun menjadi pengamat yang objektif mengenai tingkah laku anak dengan teman dan lingkungannya. Sekolah diharapkan bisa menggagas kegiatan internal yang bersifat positif untuk memfasilitasi kegiatan orang tua dan siswa atau membentuk petugas untuk memantai kegiatan siswa selama di sekolah.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10378″][/vc_column][/vc_row]




Subhanallah, baru tau ini cerita Arie Anggara.. sedih bener dah T.T
Semoga saya ga jadi orang tua gitu deh T.T
eh tapi tapi, kayaknya jaman sekarang udah banyak banget kasus begini ya.. anak dibunuh orangtua, orangtua dibunuh anak.. macem-macem aja huhu..
good job, good script, good website.