Pantas Disebut Ibu atau Karyawan?

56 thoughts on “Pantas Disebut Ibu atau Karyawan?”

  1. Aku setuju sama mbak yang bilang mereka itu yang meminta wanita kembali ke kodratnya masih berada di posisi atas. Mereka ga tau gemana rasanya hidup di bawah.
    Jadi keinget sama teman yang MBA. Baru 2 tahunan nikah udah pisah sama suaminya. Sekarang dia hidup berdua sama anaknya yang masih kecil. Temanku ini mau ga mau kerja buat biaya hidup karena mantan suami ga bisa diandalkan lagi. Keluarga? Bisa dibilang hubungan dengan keluarga sudah ga baik sejak insiden MBA. Apa dengan bekerja mati-matian begini karena keadaan dia ga pantas disebut ibu? Ga mikir memang deh yang bikin status

    yaelah malah curhat. Maap mbak kebawa suasana 🙁

  2. yup, wanita bekerja juga bukan hanya melulu soal uang tapi untuk mengembangkan diri . Semua pilihan dan tgt pribadi. Aku bekerja tapi anak-anak semua keurus bahkan mereka dari kecil sudah mandiri. Btw, ini pemikiran aku ya, waniat itu juga harus bekerja. Aku punya teman sarjana dan tidak bekerja. Saat suaminya meninggal , dia kebingungan , mau melamar kerja usianya sudah 40an, kan susah cari kerja juga. Mungkin bisa untuk berjaga-jaga ya

  3. Saya juga seorang ibu yang bekerja mbak Anisa, tentu karena untuk membantu perekonomian keluarga juga. Dan saya berusaha menjaga komunikasi dengan anak meskipun pada jam kerja misal dengan BBM-an.

    Memang sih pertemuan dengan anak sangat terbatas waktunya tetapi tetap berusaha menggunakan waktu yang ada sebaik-baiknya. Terutama hari Minggu dan hari libur dimaksimalkan untuk lebih dekat dengan keluarga terutama anak 🙂

  4. hihihi…. nggak usah ikut emosi mbak e.
    Tiap orang hidup dengan pilihannya masing-masing.
    Selayaknya sih pak "ustadz" kasih contoh, mari saling menghargai pilihan hidup orang, jangan menghakimi kalau tak tau kebenarannya… dst.
    Eh tapi, tapi… malah buat tweet yang membuat para wanita meradang hehehe

  5. Hehehe…
    tenang mba tenang ^^
    biarkan fakta yang berbicara, toh banyak anak2 yang ga karu2ankelakuannya & ternyata ditelusuri kesemuanya bukan anak dari ibu yang bekerja kantoran. Maaf, bukan maksud saya menjelekkan ibu yang tidak bekerja kantoran.

    Maafkan saja para 'manusia' yang berkoar2 seperti itu 🙂
    didoakan agar lebih bijak dalam berkata-kata apalagi sbg public figure

  6. Saya sih nanggepinnya simpel aja mbak, gak dibawa pikiran, menurut saya apa yang ditulis ust felix itu bener karena sesuai banget sama yang dianjurin Rasulullah. Tapi itu hukum awalnya, gak mutlak semua perempuan harus begitu. Intinya kalau bisa ya syukur, kagak bisa ya itu urusan kita dewe dengan Allah. Hal kayak gini sih gak bisa dihakimi di dunia. Yang pilih bekerja pasti punya alasan kan, so tinggal kasih tahu aja kalau nanti ditanya Allah kenapa kita pilih menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Hihi

  7. aku bekerja dan aku ibu
    aku pegawai dan aku ibu
    apapu profesiku krn mrk bertiga lahir dari rahimku..
    maka aku adalah ibu..
    karyawan? pegawai? nanti juga pensiun..klo jd ibu memang bs pensiun

  8. Apakah sesempit itu agama kita?
    Penyebab wanita jadi wanita kantoran itu banyak sekali dan bukan karena tidak ingin tinggal di rumah dan menjadi IBU yang bisa FULL TIME menemani anak…

    Lingkungan dan faktor ekonomi lah yang kadang menjadi penyebab banyak wanita harus bekerja dan menjadikan mereka IBU IBU yang KARYAWAN. Lantas apakah dengan semudah itu IBU lepas dari seorang wanita karena jadi karyawan?

    Kalau mau dikritik tuh gimana caranya kalau memang IBU IBU harus jadi FULL TIME IBU maka peliharalah mereka terutama yang JANDA yang serba kekurangan, yang buat makan aja susah…

  9. Harapanya kalau udah punya istri biar dirumah aja biar full ngurusin buah hati 😀

    Setelah baca baca postingan + komen dari temen temen banyak perbedaan pendapat ya. hihihi..
    ane gak ikut ikutan mah,,,

  10. Maaakkk… Ampun mau baca postingan malah banyak iklan nya.. Huebatt!! Tapi jadi gengges di taro banyak banyak di dalam postingan gini. Otomatis ya? Btw kalau menurut aku, ibu tetaplah ibu. Mau itu ibu yang di rumah aja, gak kerja, kerja kantoran, or malah ibu durhaka tetaplah seorang ibu hehehe.. Karyawan ya karyawan..

  11. Kadang klo perempuan masuk ke dunia publik, tujuannya juga bukan cuma materi ya mbak…aplikasi ilmu. Rugi kan beljar..misalnya farmasi, kedokteran,atau elektro…tp endingnya dirumah…beres2, setrika,momong…gitu kan jd ilmunya menguap.

    Klo menurut saya, yang penting balance. Nah..itu tantangannya, selama bisa seimbang, rumah beres, anak terpantau, kerjaan lancar…jempol bgt.

    Eh..aku ibu rumah tangga lho mbak. Tl dulu ngantor juga. Tp kerjaanku susah sekali bisa balancenya..ada yang keteter krn rumah jauh dr kntr. Harus memilih pada akhirnya…

    Dan saat kerja ataupun dirumah…ya tetap ibu

    Saat anak sakit…siapa yang rela bolos kerja. Ibu
    Yang pontang-panting nyarri maem krn nggak sempat masak. Ibu2 juga kan…

  12. Kewajiban dan hak ibu tidak akan hilang ganya karena bekerja.

    Permasalahan ibu dirumah seringkali trjadi deviasi mothering. Dimana i u dirumah tapi abai dgn keadaan rumah termasuk anak.

    Meski banyak kritik ditujukan ke pas ustad, dia tak bergeming.
    Mmg kebenaran yg disampaikan tapi caranya tdk baik jadi mental mentul kesana kemari efeknya.

    Saya bekerja tapi ya yg bisa merasakan kebahagiannya klg kami. bkn pak ustad yg ribuan kilo disana.

  13. Masih jadi perdebatan juga ya. Jadi sedih. Seharusnya kita perempuan bisa saling menguatkan bukan melemahkan. Kalo ada yang perlu dikritik, mbok ya jangan menghujat karena kita tidak pernah tahu mengapa seseorang memutuskan sesuatu -_-

    Jalan yg diambil seseorang, bekerja di mana dia, tentunya berhubungan dengan kenyamanannya. Kalau dia nyaman, hubungan dengan anak jadi baik. Ada sahabat saya, ibunya pegawai instansi pemerintah tapi tidak pernah alpa memperhatikan anak2nya. Dan ibunya bisa, koq.

    Ada juga ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar tapi anak2nya kena cobaan. Jadi bukan jaminan juga sih, bekerja atau tidak. Tergantung bagaimana setiap ibu memperlakukan anak2nya.

    Ah, jadi sedih deh -_-

  14. Perdebatan antara worker mom sama full mom ini udah sering banget ada. Kalau saya menanggapinya dengan biasa aja. Ibu bekerja pasti punya alasan untuk kerja, begitu juga seorang ibu yang mungkin sarjana tapi memilih untuk jadi full mom, pasti juga punya alasan. Bekerja pun jika suami memang sudah mengizinkan kan tidak ada dosa juga. Keduanya memang pilihan yang kadang bikin dilema. Pengen dirumah aja tapi kebutuhan makin banyak, jadilah si ibu memilih bekerja.

    Semoga yang masih memperdebatkan antara worker mom dan full mom, bisa tercerahkan dengan postingan mba Anisa ini.

  15. Menurut saya, full mom atau mom worker adalah pilihan, namun anak membutuhkan peran ibunya diantara kondisi keduanya. Sebisa mungkin kualitas waktu bersama anaklah yang jadi prioritas.

  16. Saya sudah merasakan keduanya mba, dan sekarang menjadi Ibu yang tetap saja bekerja di rumah, biarpun tifak fulltime di kantor. Tetap saja saya pun banyak yang memojokkan di lingkungan. Tak apalah, karena semua butuh pilihan ya.

  17. Saya adalah seorang ibu dan saya juga karyawan, namun saya tetap pantas disebut seorang ibu, bangun subuh menyiapkan sarapan dan bekal anak, mengantarkan anak sekolah, pulang kerja sayapun meski masih lelah masih sempat memandikan anak sore dan menyuapinya, mengaji dan belajar bersama, tidak pantaskah saya disebut ibu? ah memang orang hanya bisa menjudge saja. Oiya satu lagi meski saya bekerja, setiap ada pertemuan orang tua di sekolah saya selalu hadir, tidak cukupkah saya disebut ibu? Terimakasih tulisannya mbak, 🙂 dan baca tulisan ini saya sambil menangis

  18. Biasalah, orang seharusnya nyari tahu kenapa wanita itu sampai bekerja dan terpaksa hanya punya sedikit waktu dengan anaknya? Dan benar, sekarang peran ayah juga penting. Intinya kedua orangtua perannya besar banget buat anak. Dan wanita itu juga tidak bisa disalahkan dong kalau mau bekerja juga untuk kebanggaan dirinya… Bisa memberikan hadiah untuk anak dari uang hasil kerja sendiri.
    Sama gak ngertinya juga kenapa orang harus komen seperti itu

  19. Kalau mau adil alangkah baiknya bila para pemuka agama juga menyeimbangkan porsi nasehat kpd para ayah juga ya. Seperti apa pemicu para wanita jd bekerja? Apakah karena suaminya banyak yang abai tgjwb sehingga kebutuhan makan sehari saja tdk bisa? Atau karena istri yang memang tdk puas dg rejeki yg ada..Bila sampai istri bekerja lalu kenapa2 suami2 ini yg plg berat diminta pertanggung jawabannya. Sudah pernah melihat suami2 yg menyesal ini, ketika akhirnya anak2nya jd tidak beribu..sedih sekali.

    Isu yg lebih penting sih karena di jaman internet ini banyak orang sdh rusak otak krn pornografi…bahkan org terdekat sendiri bisa tega menyodomi anak. Kalau sudah bolong anusnya apakah dapat dikembalikan seperti semula waktu2 yg hilang itu…kita2 yg seharusnya bisa menjaga dan waspada akan gelagat lain anak. Kita jaga saja terkadang masih terasa belum aman..

    Kalau single moms mereka memang harus survive, sebenarnya masuk pengecualian, jadi harus dibedakan kasusnya.

  20. Suka dan sepakat banget dengan seluruh uraianmu, Mba Nisa! Keren banget ini tulisannya! Apa kabar, Mba Nisa? Semoga sehat selalu yaaa!

  21. Para ibu yg mulia… beliau kan menyampaikan hanya 3 jam untuk anak… berarti yg bs lebih dr 3 jam ada harapan bs tetap menunaikan tugas sebagai ibu rumah tangga yg diharapkan sang maha pengasih kita… kalo beliau bilang 18 jam buat keluarga ndak cukup lha itu br masalah… jadi hanya salah faham… smoga kapan2 beliau live membahas ini secara panjang lebar biar kita tambah ilmu… trm ksh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *