[vc_row][vc_column][us_single_image image=”11472″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Hari keempat belas adalah hari terakhir saya berada di Mekkah. Banyak sekali jamaah yang dari pagi sudah melakukan towaf wada’. Sementara saya hanya di kamar sambil menata hati, karena kopernya sudah ditata semua kemarin. Kenapa sekarang hati yang ditata? Yuk, simak terus kisah perjalanan umroh saya!
Karena saya merasa berat meninggalkan Masjidil Haram. Terlintas di benak saya untuk membuka jasa travel umroh agar bisa ke sini setiap tahun. Minimal 3 bulan sekali. Rasanya rindu, sangat rindu. Apalagi hanya sekali berada di dekat Ka’bah saat umroh. Belum ke sana lagi karena haid. Duh sedih, sediiih banget.
Namun, saya tetap harus pulang karena ada suami dan anak yang membutuhkan saat ini. Saya juga rindu dengan mereka, rindu kelucuan dan keseruan saat bersama dengan anak. Apalagi dengan suami, kangen banget pastinya.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Persiapan Kepulangan
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]Sekitar jam 1 siang, semua sudah siap. Kami turun ke lantai bawah dari tower satu menuju ke tower 6. Soalnya kalau ke tempat bus yang biasanya, lebih cepat lewat tower 6. Karena banyak orang sepuh, lebih dari 60 tahun, maka saya pun harus membantu mereka membawa koper. MasyaAllah, kopernya banyak uy, berat-berat juga. Ada yang sampai membeli tas tambahan untuk oleh-oleh.
Sampai di bawah, saya membantu para jamaah lain menuju ke terminal bus. Tempat di mana bus menunggu. Saya bawakan beberapa koper secara bergantian setelah sebelumnya memastikan koper milik saya dan Ibu sudah aman. Cukup ngos-ngosan karena koper-koper yang saya bawa itu besar. Koper kecil dibawa sendiri oleh mereka. Setelah semua dirasa sudah kumpul, ternyata jamaah dari Solo belum ikut kumpul. Langsung syok deh. Inilah suka duka kisah perjalanan umroh saya.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”11471″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Masih ada 2 orang, yang 9 orang masih ada di kamar. Lantai 21 di tower 1. Gimana bayanginnya? MasyaAllah banget. Saya langsung ikut Umik Anik dan Abah Hartono yang dari Solo untuk menjemput teman yang lain. Mereka tidak bisa komunikasi karena kuota roaming sudah habis.
Ternyata ada miskomunikasi di sini. Jamaah dari Solo mengumpulkan uang 35 riyal, katanya buat koper yang dibawa ke lantai bawah. Pas uangnya sudah kumpul, katanya dibawa sendiri. Lha? Gimana? Aku masih bingung dengan masalah tersebut. Kalau di jamaah tempatku, ada biaya 160k untuk air zam-zam dan koper di bandara Jeddah. Mungkin ini maksudnya.
Okelah, semua berjalan dengan lancar sampai akhirnya kami naik bus menuju ke Jeddah. Sebelum sampai ke bandara, ustad yang menemani, turun dari bus. Awalnya ngomong ke saya kalau nitip uang, nanti ada temannya di bandara yang mau menghubungi. Dengan setengah mengantuk, saya pun mengiyakan.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Merasa Mendapat Jebakan Batman
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Sesampainya di bandara, kami semua menunggu. Tidak ada telepon dan informasi sama sekali hingga 30 menit. Tiba-tiba saja ada pesan kalau saya diminta mengurusi semua keperluan jamaah di bandara. Kaget dong. Waduh, kok tiba-tiba saya? Padahal tidak ada informasi apa pun sebelumnya tentang hal tersebut. Saya minta bantuan Mas Ulum, tapi beliau menolak, katanya gak bisa. Malah diminta sama Habib.
Jujur saja, saat itu langsung kalut dan pingin nangis. Apalagi Habib beberapa kali tanya dan bikin tambah bingung. Lha kalau sama Habib, saya gak yakin bisa beres masalahnya. Ya Allah. Cobaan apalagi ini? Sumpah, di bandara, saya pingin nangis. Lelah rasanya harus bolak-balik, riwa-riwi dan gak dikasih tahu sebelumnya harus ngapain. Seperti di rumah sakit sebelumnya, saya harus mengurusi ini itu sendiri, membantu Mbak Suli karena tidak bisa berbicara dengan orang sana.
Saya yang sama sekali minim pengetahuan tentang perjalanan, apalagi di bandara, akhirnya membulatkan tekad. Duh, jika ada yang lihat mata saya, pasti tahu jika mata ini berkaca-kaca. Ingin meluapkan emosi yang tidak stabil. Namun, di kondisi seperti ini, siapa lagi yang bisa diandalkan selain saya? Yang lain? Siapa? Malah yang ada jadi tidak beres dan kami semua tidak bisa kembali ke Indonesia.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Biaya di Bandara
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Ternyata selain penumpang, akan dikenai biaya 600 riyal. Katanya sih begitu. Jadi, tidak ada yang mendampingi. Semua dilakukan sendiri. Ya Allah. Sedih.
Saat sudah bernegosiasi dengan petugas bandara, dikenai biaya 800 riyal. Itu tergantung dengan jumlah koper yang dibawa. Uang ini diambil dari uang yang dititipkan kepada saya sebelumnya. Saya langsung merasa mendapatkan jebakan batman. Kok tiba-tiba saya dan saat itu saya pun tidak bisa menolak.
Di bagian zam-zam. Dikenai biaya juga, kalau ditotal sekitar 435 riyal. Untuk penulisan zam-zam milik siapa dan diantar ke dalam, dikenakan biaya 30 riyal. Untuk orang di dalam yang membawakan barang juga ada biaya 120 riyal. Totalnya sekitar 1.385 riyal.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Dimarahi di Tempat Cetak Boarding Pass
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Pas di bagian cetak boarding pass, kami semua dicegat karena tidak bisa memperlihatkan tanggal keberangkatan. Setelah memberikan pdf yang dikirim ke saya, kami pun bisa masuk. Namun, semua belum berhenti sampai di sini. Drama masih panjang saudara-saudara.
Di bagian tersebut, diminta paspor. Saya mengumpulkan ke para jamaah. Ada 46 paspor yang saya bawa, eh diminta satu aja. Langsung diprint beberapa paspor. Paspor dibagi. Tiket pesawat pun dibagi. Pas ditanya sama petugas bandara jumlah jamaah dan koper, saya pun mengatakan 46. Seharusnya 48, tapi satu jamaah meninggal dan satu jamaah tidak pulang. Lalu ditanya berapa jumlah zam-zam yang dibawa. Habib minta 50 zam-zam, ya saya bilang 50.
Ya Allah, saya langsung dimarahi, diceramahi panjang lebar. Jamaah yang saya bawa itu menghambat jamaah lainnya.
buy doxycycline online https://www.phamatech.com/wp-content/themes/twentysixteen/inc/new/doxycycline.html no prescription
Dia bisa menutup loket saat ini juga karena jamaah yang datang terlambat, tapi meminta petugas jaga untuk menunggu. Masih ada sekitar 60 jamaah yang belum datang, termasuk jamaah saya. Kalaupun setelah jamaah saya masuk, tapi sisanya tidak datang, maka otomatis akan ditinggal. Kok sekarang malah saya memikirkan zam-zam 50 dus, daripada tiket jamaah.
Ya Allah, sumpah pingin nangis guling-guling. Sedih rasanya. Sediiih. Saya pun berkata bahwa saya ini cuma jamaah yang membantu, saya juga bukan pengurus. Mengurus ini dan itu pun gak dibayar. Akhirnya saya mengiyakan 48 dus, sesuai dengan jumlah jamaah dan yang tidak pulang. Petugas itu membanting kertas yang dipegangnya ke atas meja, membuat saya ketakutan. Saat itu ingin berada di pelukan seseorang. Saat menulis ini pun, mata saya berkaca-kaca mengingat hal tersebut.
Namun, lagi-lagi saya harus kuat. Saya harus bisa. Kami semua harus bisa pulang malam ini. Jangan sampai kami tidak bisa pulang walaupun tidak ada pengurus yang menemani. Kami semua seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Tak tahu harus berbuat apa.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Ternyata Ada yang Belum Dapat
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Setelah membagikan tiket, ternyata ada yang belum mendapatkan tiket. Buat yang belum, saya minta lagi paspor dan berkumpul menjadi satu di tempat terpisah. Hingga akhirnya mendapat tiket pesawat tambahan dan saya bagikan ke para jamaah. Tubuh saya rasanya mau copot, apalagi jika mendapatkan bentakan sana-sini karena ada saja yang kurang.
Allah Allah, saya hanya menyebut nama Allah di dalam hati. Meminta kekuatan agar bisa menjalani ini semua. Saya takut dan bingung, tapi jika saya tunjukkan hal itu, bagaimana dengan jamaah yang lain? Bagaimana dengan Ibu? Pasti Ibu akan semakin takut. Saya hanya kepikiran soal Ibu.
Ibu pun berkata ingin ikut saya, saya tolak dengan cepat.
buy neurontin online https://www.phamatech.com/wp-content/themes/twentysixteen/inc/new/neurontin.html no prescription
Saya tidak mau Ibu malah berpisah dari jamaah dan hilang. Cukup saya yang mengurusi ini semua. Memastikan semua jamaah melakukan prosedur dengan benar, termasuk Ibu saya. Saya tidak boleh egois dan mementingkan diri sendiri, sementara jamaah lain malah akan terbengkalai. Saya titipkan Ibu ke Mbak Suli.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Masuk ke Ruang Imigrasi
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]Petugas yang memarahi saya tadi berubah menjadi baik. Lalu memberi tahu apa yang harus saya lakukan nanti. Langsung ke ruang imigrasi dan ke ruangan dengan pintu nomor tiga belas. Saya tersenyum sebelum mengucapkan terima kasih.
Setelah itu saya mengantar semua jamaah masuk ke ruang imigrasi untuk cek paspor. Kami berbaris satu per satu agar tidak menimbulkan kericuhan. Memang untuk apa pun, saya minta semua berbaris. Meminimalkan ada jamaah yang ketinggalan atau hilang. Sambil menghitung jumlah jamaah yang sudah mengikuti prosedur.
Paspor dicek secara antri. Saya minta semua menyebar di beberapa loket dan berkumpul ke satu titik buat yang sudah selesai. Ini agar cepat selesai dan tidak menimbulkan kerumunan. Setelah memastikan semua oke, saya pun membawa semua jamaah ke tempat pemeriksaan tas.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”11467″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Tas Mulai Diperiksa
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Di bagian ini, semua koper dan tas dimasukkan ke dalam mesin x-ray untuk mendeteksi barang yang mencurigakan. Saya membantu petugas untuk mengarahkan para jamaah. Laki-laki di sebelah kiri dan perempuan di sebelah kanan. Semua barang bawaan, tidak terkecuali dompet dan sabuk, harus dimasukkan ke sana. Saya membantu para jamaah yang sudah tua untuk mengangkat koper mereka, lalu memberi tahu pindah ke pemeriksaan yang lain. Sampai-sampai barang saya pun menjadi barang paling akhir yang masuk ke dalam. Pun termasuk orang yang diperiksa paling akhir.
Salah seorang petugas mengira saya adalah ustazah yang mendampingi para jamaah, lalu memberikan satu jempolnya untuk saya. Sungguh, hal tersebut terlihat sangat kecil, tapi bisa membuat saya tersenyum. Saya merasa diberi sebuah penghargaan.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Berada di Ruang Tunggu
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][us_single_image image=”11466″][vc_column_text]Akhirnya kami semua berada di ruang tunggu. Ingin sekali rebahan di lantai, tapi perjalanan belum selesai. Saya langsung ke kamar kecil untuk ganti pembalut karena merasa sudah sangat banyak. Ndilalah memang sudah bocor, tapi karena tidak membawa celana dalam di dalam tas kecil, saya pun berganti pembalut saja.
Masih ada bus yang akan membawa kami ke pesawat nanti. Saya masih harus membawa dua koper untuk menaiki tangga, lalu antri masuk ke dalam pesawat. Setelah masuk ke dalam pesawat, saya mulai agak lega. Selesai, tugas saya sudah selesai sampai di sini. Semua jamaah sudah bisa pulang ke Indonesia. Air mata saya pun menetes pelan karena Ibu tidak ada di samping, sudah duduk di tempatnya sendiri.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Pesawat Mulai Terbang
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]Di dalam perjalanan, saya sama sekali tidak bisa makan. Semua makanan yang disajikan tidak bisa masuk ke dalam tenggorokan. Lidah saya rasanya pahit. Apalagi ditambah haid yang rasanya semakin lancar saja. Saya tak berani ke kamar mandi ataupun sekadar berdiri. Hanya minum air putih dan sesekali menggosok perut dengan minyak kayu putih. Untungnya saat itu saya bisa tidur pulas dan pramugara/i yang entah siapa menata tempat duduk saya agar lebih landai.
Pesawat berjalan seperti di awal, tapi saat ini saya tidak mabuk. Mungkin karena kondisi tubuh yang sudah mulai terbiasa. Hanya saat mau turun, rasanya goncangan semakin keras. Sampai membuat saya batuk dan mau muntah. Namun, tidak ada muntahan yang keluar. Saat makin dekat dengan tanah, goncangan semakin keras dan saya hanya bisa mengingat Allah. Telinga sudah seperti tak bisa mendengar. Hanya ucapan Laailaaha illallah yang keluar dari mulut.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”11465″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Akhirnya Saya Menangis
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]Tak hentinya air mata saya menetes. Kali ini menetes dengan keras sambil menangis seperti anak kecil. Saya takut karena merasa sendirian, tapi juga lega karena akhirnya bisa sampai di Indonesia tanpa kekurangan satu apa pun. Saya hanya ingin pulang dan berada di pelukan suami, benar-benar merasa lelah.
Umik Anik yang melihat saya menangis, langsung memberikan tisu. Duh, malu sebenarnya. Beliau pun memberikan tisu lagi dan minyak kayu putih. Saya minta minyak lagi ke Umik Kasiyati sebelum akhirnya merasa benar-benar lega. Setidaknya, mabuk bisa dijadikan alasan bahwa saya benar-benar lelah dan ingin menangis. Umik Anik langsung berdiri setelah merasa pesawat berhenti, memijat pundak dan kepala saya dengan lembut agar merasa mendingan.
Abah Handoko yang suami dari Umik Anik, mengambilkan koper saya yang di atas dan membawakan hingga keluar dari pesawat. Mereka bahkan mengundang saya untuk main ke Tawangmangu nanti. Kami pun akhirnya harus berpisah karena saya harus berhenti untuk menunggu Ibu yang berada di belakang.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”11469″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Senyum Ibu
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Ibu pun menggamit lengan saya, kami berjalan beriringan dengan tersenyum. Ya Allah, senyum Ibu ini yang saya tunggu. Senyum yang sering saya rindukan. Walaupun akhirnya saya harus meminta Ibu melepaskan karena kesulitan membawa dua koper. Tak mungkin meminta Ibu membawa koper, cukup saya yang lelah. Dulu, Ibu pula yang selalu membawakan barang saya dan menjaga saya dengan nyawanya. Walaupun saya tahu Ibu saat itu tak sekuat saya saat ini.
Di Juanda, kami semua sudah dijemput oleh ketua rombongan. Okey, saya benar-benar lega karena kali ini bukan saya yang mengurus. Saya bisa menjadi rombongan biasa dan mencari barang sendiri. Tentu saja juga memprioritaskan Ibu. Saya pikir bisa langsung pulang, tapi ternyata harus menunggu sekitar 1,5 jam sebelum akhirnya bus meninggalkan bandara. Tidak lupa sisa uang yang saya bawa, saya berikan semua kepada Abah Zen.
Kami semua sampai sekitar Isya. Di sana sudah menunggu Kakak, Adik, Asma, suami, tetangga, dan yang lainnya. Air mata saya langsung ingin menetes, terharu. Akhirnya kami sampai juga. Di sana beberapa orang tua berpamitan pada saya, mereka mengucapkan terima kasih atas semua yang saya lakukan di Jeddah kemarin. Saya jadi terharu, tapi tak lama karena langsung pulang ke rumah, tidak ingin berlama-lama. Katanya, jamaah Ibu juga sudah menunggu.[/vc_column_text][vc_row_inner][vc_column_inner width=”1/2″][us_single_image image=”11479″][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/2″][us_single_image image=”11477″][/vc_column_inner][/vc_row_inner][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]Sesampainya di rumah, kami langsung melakukan sujud syukur dan juga berdoa. Semoga apa yang kami doakan di sana, semua diijabah. Tentu kami juga mendoakan agar semua tetangga dan saudara juga bisa menyusul ke tanah suci. Saya dan Ibu jelas mempunyai cerita yang berbeda.
Jika ditanya, apa kapok ke Tanah Suci? Tentu jawabannya adalah tidak. Saya ingin ke sana lagi, lagi, dan lagi. Backpacker boleh juga karena sudah mengerti cara mengurusnya. Lagipula siapa tahu bisa sekalian ajakin karyawan dan keluarga untuk mengunjungi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Bikin travel umroh? Sepertinya ide yang bagus, tapi saya perlu belajar lebih dalam bahasa Arabnya, mondoknya kurang lama, hehehe. Alhamdulillah sampai sini kisah perjalanan umroh pertama yang banyak banget memberi pelajaran ini.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”11468″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Ini adalah cerita saya dari part 1 sampai selesai. Dibaca sampai tamat yaaa.
Part 1: Kisah Perjalanan Umroh 14 Hari – Part 1 – Ke Mana Saja dan Barang Apa yang Dibawa
Part 2: Kisah Perjalanan Umroh 14 Hari – Part 2 – Tertipu 20 Juta
Part 3: Kisah Perjalanan Umroh 14 Hari – Part 3 – Sholat di Parkiran dan Kehilangan Ponsel
Part 4: Kisah Perjalanan Umroh 14 Hari Part 4 – Mengunjungi Jabal Rahmah, Masjid Aisyah, dan Cerita di King Abdul Aziz Hospital
Part 5 – END[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]




Ikut seneng baca ini, semoga berkah ya mbak dan one day aku bisa ke sana amiiin
Akhirnya dengan segala drama bisa pulang dengan selamat. Cerita ini bisa jadi refleksi diri sendiri dan buat orang lain
Mbaak, masya Allah ya ujiannya … saya baru baca di bagian ini tapi ikut teraduk2 dan ikut merasakan emosinya. Alhamdulillah sampai juga di tanah air. Masya Allah … senangoula melihat senyum ibunda.
Semoga bisa ke tanah suci lagi ya Mbak Nisa.
Ikut seneng bisa pulang dengan selamat ya mba. Btw, no hp di kopernya diblur aja mba. Khawatir ada orang yang jail
Ikut senang dan sedih juga membaca cerita ini