[vc_row][vc_column][us_single_image image=”11461″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Hari kesembilan umroh, saat haid. Mungkin karena persiapan yang kurang matang atau kondisi tubuh yang sudah lelah, akhirnya saya haid. Padahal biasanya haid tiga bulan sekali. Untuk meminum obat pun harus konsultasi dengan dokter kandungan karena saya memiliki alergi obat yang bisa membahayakan nyawa dan juga diabetes. Dari sinilah kisah perjalanan umroh kali ini bermula.
Untuk yang biasanya haid, jangan lupa bawa dalaman lebih, ya. Pembalut juga perlu dipersiapkan. Sesuaikan dengan tanggal biasanya saja, bawa dari rumah lebih murah. Kenapa? Karena saat membeli di sini, satu wadah itu harganya sekitar 100k. Jadi, lebih hemat membawa sendiri dari rumah, kan?
Di sini ada juga jamaah yang sudah meminum obat seperti saya, tapi tetap haid. Ya mau gimana lagi? Mau marah sama yang ngasih haid? Enggak kan? Ada hikmahnya juga karena dengan haid, bisa fokus mengurus hal lain.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Mengasuh Anak Kecil
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][us_single_image image=”11450″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Kisah perjalanan umroh ini berawal dari sholat Maghrib, saya sengaja ke halaman, melihat orang-orang sholat di sepanjang jalan. Subhanallah, bahkan di jalanan dan depan toko, banyak sekali orang yang melakukan sholat. Kebetulan ada seorang anak kecil yang menangis. Saat saya hampiri, ibu dan kakak dari anak itu sedang sholat. Entah mengapa, saya langsung mendekat dan menghiburnya agar dia tidak menangis. Cilukba dan mengajaknya ngobrol adalah salah satu caranya. Ya, walaupun saya tidak yakin anak itu akan mengerti dengan apa yang dikatakan. Alhamdulillah dia berhenti diam.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Mengantar Orang Sumbawa yang Kesasar
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][us_single_image image=”11451″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Hari kesepuluh, pagi hari. Saya dan Umi Zen ke hotelnya Mbak Suli. Tentu saja sekalian mau menukarkan kerudung yang dibeli. Nah saat itu tiba-tiba saja ada orang tua yang nyasar. Dia bertanya pada orang-orang, tapi tidak ada yang mengerti. Sampai akhirnya saya pun berbincang dengan beliau menggunakan bahasa Indonesia.
Setelah menghubungi tour guide yang mengajak dan tidak mendapat jawaban, saya pun mengantarkan bapak tersebut untuk kembali ke hotel. Hotelnya lumayan jauh dan saya mengandalkan Google Maps agar tidak kesasar. Perjalanan satu jam pulang-pergi dari lokasi tersebut. Capek? Iya. Namun, saya percaya bahwa ini adalah cara Allah untuk menghapus dosa, memberikan kesempatan berbuat baik pada orang lain di Tanah Haram.
Setelah sampai di hotel yang dimaksud, beliau pun bertemu dengan rombongannya. Alhamdulillah, lega rasanya saat mengetahui bahwa tugas saya sudah selesai. Ya, walaupun kaki lumayan pegal. Anggap aja sedang olahraga. Bapak itu pun mengeluarkan uang untuk diberikan pada saya, tapi saya tolak dengan halus. Saya hanya minta didoakan agar apa yang saya inginkan bisa terkabul.
Masih di hari kesepuluh, saya kembali ke hotelnya Mbak Suli. Menunggu Umi Zen agar bangun. Eh pas mau kembali ke hotel, ternyata jalan yang biasanya ditutup. Jadinya, panas-panas, kami memutar arah. Mencari jalan terdekat untuk kembali ke hotel. Umi Zen langsung ke Masjidil Haram, sementara saya balik lagi ke kamar.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Balik Lagi Ke Hotelnya Mbak Suli
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][us_single_image image=”11452″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Kok bolak-balik sih? Saat itu Ibu berkata bahwa bajunya kotor. Padahal baju bersih tinggal sedikit dan di kamar tidak bisa mencuci baju. Oh iya, di kamar Mekkah ini diisi oleh 16 orang. Lumayan banyak banget kan, ya? Jadi, mau cuci baju pun mikir-mikir. Untungnya semua baju sudah dicuci saat berada di Madinah dan karena saya haid, jadinya tidak perlu pusing mencuci baju.
Sayangnya baju Ibu banyak yang kotor. Ada saja yang membuat baju sehari ganti. Pingin banget nangis sebenernya, capek iya. Kondisi emosi pun agak tidak bisa dikontrol. Saya seperti orang yang gak tau harus berbuat apa. Namun, lagi-lagi harus tersenyum. Jangan sampai membuat Ibu khawatir. Apalagi sampai saya mulai mengeluh.
Akhirnya dengan membawa satu kresek besar, saya pun balik ke hotelnya Mbak Suli. Numpang cuci baju di sana. Bajunya banyak banget, sekalian saja biar kalau balik ke Indonesia, tidak ada baju kotor. Lagipula untuk baju milik Ibu, bisa digunakan lagi oleh beliau.
buy amoxil online https://www.phamatech.com/wp-content/themes/twentysixteen/inc/new/amoxil.html no prescription
Panas banget sih perjalanan. Saya istighfar sepanjang perjalanan, mengingat dosa-dosa yang tidak tahu sebanyak apa.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Pak Wek Dibawa ke Rumah Sakit
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][us_single_image image=”11453″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Baca juga: Kisah Perjalanan Umroh 14 Hari – Part 1 – Ke Mana Saja dan Barang Apa yang Dibawa
Di hari ke sebelas, tiba-tiba saja mendapatkan kabar buruk. Pak Wek mengalami koma dan itu membuat saya khawatir. Sendirian ke hotel, sebelum akhirnya memanggil para ustad buat ke sana juga. Napasnya sudah berada di dada. Seperti tidak akan tertolong lagi.
Saat para ustad datang, mereka langsung membawa Pak Wek ke rumah sakit King Abdul Aziz. Saya tinggal karena akan mengunjungi beberapa tempat terlebih dahulu. Apalagi saat itu, Ibu juga akan melakukan umroh badal. Mengumrohkan Nenek yang sudah wafat. Kami pun langsung berangkat sekitar jam sembilan siang.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Mengunjungi Jabal Tsur
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][us_single_image image=”11454″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Sudah pernah mendengar cerita tentang Jabal Tsur? Tempat di mana Nabi Muhammad SAW pertama kali hijrah. Oh iya, kisah ini sudah pernah saya ceritakan di part sebelumnya lho. Akhirnya bisa mengunjungi Jabal Tsur secara langsung. Cuma berhenti sebentar karena di sini panas, tapi sempat beli es krim seharga 5 riyal. Saya dibelikan Umik Kasiati, janda juragan bangunan.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Mengunjungi Jabal Rahmah
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][us_single_image image=”11455″ align=”center”][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Jabal Rahmah adalah gunung tempat di mana Ibu Hawa dan Nabi Adam pertama kali bertemu setelah berpisah berpuluh tahun. Itu pun berpisah karena diusir dari surga setelah memakan buah kuldi. Di gunung yang penuh dengan bebatuan ini, banyak sekali nama yang diukir di atas batu. Ada pula foto-foto yang memang sengaja diletakkan di sana.
Di sepanjang jalan naik ke gunung, akan banyak dijumpai penjual aksesoris, baju, pacar bubuk, dan yang lainnya. Di sini bisa membeli banyak oleh-oleh dengan harga yang cukup ramah di kantong. Saya membeli sembilan gamis, itu karena Ibu yang meminta. Gak kebayang gimana nanti pas mau dibawa pulang ke Indonesia, apalagi koper besarnya cuma 2. Koper kecil juga dua. Ini aja belum pakaian pribadi yang dibawa kemarin.
Setelah itu, bus terus berjalan hingga melewati, Sofa Marwah, Mina, juga tempat lempar jumroh. Semua tempat yang biasanya dikunjungi oleh orang-orang yang ibadah haji, juga kami kunjungi. Ya walaupun busnya gak berenti, terus saja sampai melewati Terowongan Mina hingga kisah perjalanan umroh ini tetap berlanjut.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Mengunjungi Masjid Aisyah
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Para jamaah yang ingin mengumrohkan keluarga, perlu berniat di Masjid Aisyah. Tentu sambil memakai pakaian ihram sekalian. Di sini kamar mandinya antri luar biasa. Desak-desakan dan banyak yang gak sabaran. Apalagi memang banyak orang dari berbagai negara yang berkumpul.
Saya tidak masuk ke masjid, hanya menunggu di luar. Di sini juga banyak penjual aksesoris dan juga makanan khas Arab. Ada juga penjual air mineral dengan harga satu dan lima riyal. Ini mungkin untuk antisipasi karena banyaknya pengunjung, jadinya air tersebut digunakan untuk wudhu.
Saya sempat kehilangan Ibu karena ke kamar kecil sebentar. Kamar kecilnya ramai sekali, hingga lelah menunggu. Akhirnya dapat juga. Eh pas keluar, Ibu sudah tidak ada. Untungnya ikut jamaah lainnya ke bus. Huft, bisa menarik napas dengan lega deh.
Setelah mengunjungi semua tempat tersebut, para jamaah beristirahat sebentar sebelum akhirnya melaksanakan umroh. Saat orang-orang umroh, termasuk Ibu, saya di kamar menata koper.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Kepulangan yang Ditunda
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Tidak ada yang menemani Mbak Sul di rumah sakit. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Sampai akhirnya saya diminta Habib buat menemani Mbak Suli sampai Pak Wek sembuh. Tiket kepulangan saya dibatalkan atau ditunda. Agak mikir karena saya datang bersama Ibu. Takut kalau ada apa-apa dengan Ibu. Ya kan banyak orang, mereka pasti sibuk dengan keluarga dan barang bawaan masing-masing. Saat itu saya katakan hal tersebut pada Ibu, tapi semuanya masih belum final.
Kayaknya cuma saya dan Mbak Suli yang gak mikirin barang bawaan. Punya saya bahkan sudah ada di 1 koper kecil dan 1 koper besar yang tak mungkin dibuka lagi. Isinya jangan ditanya. Kebanyakan oleh-oleh yang dibeli Ibu buat saudara dan dokternya. Saya beli apa? Printilan kecil seperti tasbih atau gelang. Celak dan lipstik Arab juga yang biasanya ada di Malang. Rasanya beda aja kalau beli di sini langsung.
Baca juga: Kisah Perjalanan Umroh 14 Hari – Part 2 – Tertipu 20 Juta[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Ke King Abdul Aziz Hospital
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][us_single_image image=”11460″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Masih di hari yang sama, tapi jamnya berbeda. Saya diminta para ustad buat menemani Mbak Sul di rumah sakit, sekalian bawakan charge. Tak hanya itu, saya juga membawa makan malam. Jam 9 malam waktu Arab Saudi, saya berjalan sendirian mencari taksi agar mengantar ke rumah sakit. Itu pun harus berjalan terlebih dahulu sekitar 100 meter. MasyaAllah. Rasanya sesuatu banget deh.
Akhirnya saya menemukan taksi. Untungnya saya menemukan sopir yang bisa sedikit bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kami sedikit mengobrol untuk negosiasi harga. Sampai akhirnya deal di harga 20 riyal atau sekitar 85 ribu. Ini aja uangnya ngutang dulu ke Umi Zen karena sopir taksi tidak mau dibayar dengan uang Indonesia.
Ternyata pas sampai di sana, Mbak Sul malah disuruh pulang oleh penjaga karena pasien tidak boleh ditunggu. Keesokan harinya, kami boleh kembali lagi. Akhirnya saya naik taksi lagi untuk pulang. Sama dengan sebelumnya, kami melakukan negosiasi harga dan deal di angka 20 riyal. Sepertinya rata-rata harga segitu. Sayangnya sopir yang ini tidak bisa bahasa Arab maupun Inggris. Jadinya, kami kerepotan dan berhenti di tempat yang lumayan jauh dari hotel. Nyasar uy.
Kami berjalan kaki cukup lama, badan juga lemes. Apalagi Mbak Suli belum istirahat sama sekali dan saya riwa-riwi terus. Alhamdulillah ketemu orang baik dan kami diberi tahu hotel awal. Fiuh akhirnya sampai hotel lagi. Kami tidur di hotel Mbak Suli untuk menyiapkan stamina buat besok melanjutkan kisah perjalanan umroh.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Ibu Mendadak Sakit
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Astaghfirullah, pagi-pagi di hari keduabelas, saya ditelepon Umik Misiyah, katanya disuruh balik ke hotelnya Ibu. Akhirnya saya balik ke sana. Jalan sekitar 10 menit, akhirnya sampai. Di sana, Ibu langsung mengatakan bahwa dia takut jika saya tinggal sendirian. Gak tau gimana bawa kopernya. Memang selama perjalanan, saya membawa 2 koper besar dan 2 koper kecil. Sesekali Ibu membantu untuk membawakan koper kecil.
Kata jamaah yang ada di sana, Ibu tidak bisa makan dan tidak bisa tidur memikirkan saya. Padahal untuk kepulangan yang ditunda, itu juga belum final. Saya sadar, Ibu jadi seperti anak kecil yang tidak mau kehilangan saya. Apalagi memang selama ini, sayalah yang menemani Ibu ke mana-mana. Namun, saat Mbak Sul memerlukan teman, saya juga tidak bisa tutup mata. Hanya saya yang tidak sholat dan masih kuat fisiknya.
Jujur saja, semua sibuk dengan kegiatan dan tanggung jawab masing-masing. Apalagi yang tidak haid, bisa towaf beberapa kali. Saya iri, tentu saja. Apalagi memang tidak bisa masuk ke Masjidil Haram karena sedang haid. Jadi, cara inilah yang saya pilih untuk mendapatkan pahala.
Namun, sepertinya pilihan saya salah. Banyak yang mengatakan bahwa saya mementingkan orang lain, tapi tidak memperhatikan Ibu sendiri. Astaghfirullah. Sedih rasanya seperti ini. Padahal sebelum pergi, saya sudah menitipkan Ibu kepada yang lainnya. Sayangnya lagi-lagi saya salah di mata orang-orang. Harusnya keluarganya Mbak Suli yang menemani, pergi ke Arab untuk Pak Wek, bukan malah orang lain yang diminta menemani.
Saya dosa karena masih punya Ibu yang diurus, tapi malah mengurus orang lain. Dosa karena masih punya suami dan anak yang memerlukan saya. Ya Allah, padahal itu kan belum deal. Salah saya apa sih? Pingin nangis langsung saat itu. Oke, emosi saya benar-benar tidak stabil karena sedang haid dan Allah sepertinya memang memberikan cobaan ini pada saya. Pingin teriak rasanya, semua sibuk dengan urusan masing-masing. Namun, saat ini malah saya yang disalahkan. Itu hanya bisa ditelan bulat-bulat ke dalam tenggorokan. Kuat dan harus kuat. InsyaAllah semua bisa dilakukan dengan baik. Saya tidak boleh egois dengan tidak peduli pada orang lain.
Baca juga: Kisah Perjalanan Umroh 14 Hari – Part 3 – Sholat di Parkiran dan Kehilangan Ponsel[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Bolak-balik ke King Abdul Aziz Hospital
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][us_single_image image=”11458″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Peraturan di rumah sakit sini, pasien tidak boleh ditunggu. Saya dan Mbak Suli akhirnya harus pulang ke hotel untuk beristirahat. Apalagi memang kami pun sudah cukup lelah. Saat di hotel pun saya menjelaskan pada Ibu bahwa saya dan Mbak Suli harus pulang. Sementara Pak Wek di rumah sakit, menunggu untuk sembuh, baru bisa pulang.
Untuk ongkos bolak-balik dari rumah sakit ke hotel, pulang-pergi menghabiskan 40 riyal. Selama 3 hari ini menghabiskan kurang lebih sekitar 700 ribu rupiah. Untungnya di sini bisa mengambil dari kartu ATM dari Indonesia. Syaratnya adalah, kartu ATM tersebut memiliki tulisan VISA. Fiuh, syukurlah saya membawa kartu ATM milik kantor yang ada tulisannya. Kalau pribadi sih gak ada.
Pada hari ketigabelas, saya mengunjungi rumah sakit lagi. Namun, Pak Wek tidak ada di ruang emergency, sudah dipindah. Dengan kalut, saya mencari di mana tempat Pak Wek di rawat. Ya kan bahasa Arab minim banget, mau ngomong bahasa Inggris, ternyata pada gak bisa. Hiks, pingin nangis rasanya.
Setelah tanya sana-sini, akhirnya saya bertemu dengan petugas rumah sakit yang cantik. Dia bisa bahasa Inggris sedikit-sedikit. Memberi tahu bagaimana prosedur menjenguk dan juga jam jenguk. Tak hanya itu, petugas tersebut juga memberi tahu kamar di mana Pak Wek dirawat. Alhamdulillah setelah mendapatkan surat, kami langsung ke tempat informasi lagi. Perawat memberi tahu bagaimana menemukan ruang ICU.
Karena keterbatasan bahasa, akhirnya kami kebingungan di depan ruang ICU. Saat itu kami mencari Dokter Hisam untuk mendapatkan keterangan penyakit Pak Wek. Pak Wek didiagnosis corona dan juga struk. Ya Allah, sedih banget rasanya. Setelahnya, kami mengikuti Dokter Salim untuk mengurus surat keterangan dari rumah sakit. Pak Wek belum bisa pulang, jadinya kami memerlukan surat keterangan. Sementara semua rombongan jamaah langsung diminta pulang.
Alhamdulillah setelah berproses mulai dari jam sepuluh siang sampai jam dua, kami mendapatkan surat. Di rumah sakit, kami menemukan perawat dan dokter yang baik. Kali ini Pak Wek dirawat oleh Dokter Salim. Dokter Salim bahkan meminta nomor ponsel saya untuk memberikan informasi kesehatan Pak Wek lebih lanjut. Beliau juga mencari orang yang bisa berbahasa Indonesia untuk membantu saya. MasyaAllah, King Abdul Aziz Hospital memang the best. Setelahnya, kami berdua langsung cus balik ke hotel.
buy xifaxan online https://www.phamatech.com/wp-content/themes/twentysixteen/inc/new/xifaxan.html no prescription
Apa pun yang terjadi pada Pak Wek nanti, semua kami serahkan pada Allah. Jika Pak Wek sembuh, maka akan dipulangkan ke Indonesia.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]
Belum Selesai Haid
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Sudah menjelang hari keempatbelas dan saya belum ada tanda-tanda mau selesai haid. Padahal saya perkirakan akan selesai haid hari ini, nyatanya impian tidak sesuai dengan kenyataan. Akhirnya saya menguatkan hati. Mungkin ini adalah pertanda bahwa Allah ingin saya berkunjung lagi. Mengunjungi rumah-Nya dan tidak hanya satu kali. Tanah Haram memang sangat membuat saya rindu, ingin kembali. Apalagi saat mengingat berada di raudah dan juga di dekat Ka’bah. Rasanya sungguh luar biasa.
Banyak sekali yang tanya, kenapa gak minum obat? Kenapa gak suntik? Saya cuma senyumin aja. Toh mereka tidak tahu bahwa saya sudah berusaha melakukan yang terbaik. Mereka juga tidak tahu bahwa saya punya alergi obat dan sudah habis ratusan ribu untuk ke dokter kandungan.
Sore hari saya manfaatkan untuk packing koper dari hotel yang sebelumnya dihuni oleh Mbak Suli ke hotel dekat Masjidil Haram. Ternyata banyak jalan yang ditutup, sehingga hanya bisa satu arah. Kami membawa koper yang sangat berat, menyeretnya sekitar satu kilometer. MasyaAllah. Rasanya sungguh luar biasa. Apalagi memang tidak ada yang bisa yang bisa saya lakukan selain membantu orang lain. Saat kembali ke kamar, Ibu dengan temannya, tidak sholat di masjid, sepertinya lelah.
Besok adalah hari kepulangan saya, sudah empat belas hari. Namun, ada yang menusuk di hati karena tidak bisa mengunjungi Ka’bah lagi. Lagi dan lagi rasanya itu sesak. Namun, tetap harus optimis. Toh yang saya lakukan dengan membantu orang lain juga termasuk ibadah. Ada drama di kepulangan yang pastinya akan saya tuliskan dengan panjang. Sampai saya ingin menangis dan teriak-teriak di bandara. Namun, lagi-lagi harus kuat. Kalau saya nangis, bagaimana dengan Ibu? Baca di kisah perjalanan umroh part 5 yaaa.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]




Masya Allah … ada saja kebaikan yang bisa dilakukan saat umroh dalam keadaan haid ya, Mbak Nisa. Baarakallahu fiik.
Semoga pengalamannya menjadi berkah setelah pergi ketanah suci