[vc_row][vc_column][us_single_image image=”10257″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Sepanjang pandemi ini apa yang sudah kita lakukan, nih? Masih berdiam di rumah menjalani hidup sehari-hari dengan rasa bosan karena tak kunjung bisa jalan-jalan. Kalau seperti ini wajib mencoba hobi baru untuk menghabiskan waktu di rumah dengan kegiatan yang bermanfaat. Apalagi kegiatan dari rumah yang bisa membuat kita menjelajahi dunia, scroll media sosial? Hemm, tentunya tidak karena ini lebih bermanfaat. Membaca buku yang akan memperluas wawasan kita.
Dalam waktu dekat ini hasil studi berjudul “The World’s Most Literate Nations” menyebutkan, Indonesia berada di peringket ke-60 dari 61 negara. Faktanya minat baca di Indonesia sangat rendah, di sisi lain Indonesia berada di urutan kelima terbanyak kepemilikan gadget di dunia. Hal ini membuktikan masyarakat malas membaca, tetapi lebih aktif di sosial media. Memang di gadget lebih banyak informasi yang beredar, tetapi tak semuanya bisa dipercaya karena banyak dipenuhi oleh opini.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]Seperti yang kita tahu buku adalah jendela dunia, dan membaca adalah cara untuk membuka jendela tersebut. Tentunya, untuk mengetahui lebih banyak tentang dunia yang belum diketahui sebelumnya. Kegiatan ini bisa dilakukan oleh siapapun mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang-orang yang telah berusia lanjut.
“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku karena dengan buku aku bebas.”_Mohammad hatta
Buku menjadi sumber berbagai informasi yang bisa memperluas wawasan kita tentang berbagai hal seperti ilmu pengetahuan, sosial, budaya, ekonomi, dan aspek kehidupan lainnya. Tak hanya itu, membaca bisa mengubah masa depan serta menambah kecerdasan akal dan pikiran. Tanpa disadari membaca memiliki banyak manfaat, tetapi sekarang buku sudah banyak diabaikan karena kesibukan. Kenyataannya karena sudah digantikan oleh media yang lebih praktis untuk mendapatkan informasi seperti internet, televisi, radio, dan lainnya.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10258″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Nah, karena pandemi di rumah saja kenapa tidak mencoba membaca? Dengan ini kita bisa menjelajahi dunia, mengisi waktu luang agar tak sia-sia. Namun, kebanyakan orang merasa bosan saat membaca buku yang tebal, sebelum membaca saja kadang sudah merasa malas. Callimachus, pustakawan Alexandria pernah berkata, “Buku yang tebal adalah sebuah kejahatan.” Maka, kita bisa memulai kegiatan membaca sedikit demi sedikit, selain itu untuk yang bekerja dari rumah bisa menggunakan sistem baca buku ini untuk refreshing.
buy canadian zoloft online https://mabvi.org/wp-content/languages/new/canadian/zoloft.html no prescription
Kalian pasti tidak asing dengan istilah “one-sit reads” atau membaca dengan sekali duduk yang berarti membaca buku yang bisa ditamatkan dengan cepat. Mungkin ada yang kesulitan mencari waktu luang yang cukup untuk membaca buku karena kesibukan atau yang baru mulai membiasakan diri dengan membaca. Tak perlu khawatir, berikut rekomendasi buku yang bisa dibaca dalam sekali duduk:[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]
- Para Bajingan yang Menyenangkan
Ya,, buku karangan Puthut EA yang hanya memiliki 178 halaman ini berukuran A5, terlebih ditulis dengan Bahasa yang ringan pastinya akan habis dibaca dengan sistem sekali duduk. Buku ini bercerita tentang sekawanan mahasiswa yang hobi main judi, mabuk-mabukan, tawuran, dan sesekali makan babi. Walau terkesan penuh dosa, tetapi saat membacanya kita akan lebih banyak merasakan komedi daripada ajakan berbuat maksiat. Kita akan diajak menertawai kehidupan mereka yang penuh dosa, tapi bar-bar dan konyol terutama cerita tokoh Bernama Bagor.
buy canadian zovirax online https://mabvi.org/wp-content/languages/new/canadian/zovirax.html no prescription
Baca juga: 6 Buku Terbaik untuk Menemani Anda dalam Berlibur[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10255″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]2. Hidup Begitu Indah dan Hanya itu yang Kita Punya
Buku karangan Dea Anugrah dengan 181 halaman dan berukuran kecil, 13 cm x 19 cm ini layak menjadi pilihan untuk membaca dengan sekali duduk saja. Isinya hanya sekumpulan esai renyah yang diceritakan dengan baik, Dea menuliskan cerita dengan Bahasa yang lugas tanpa mengurangi keindahan ceritanya.
Kita akan disuguhi kisah unik dalam buku ini, sesekali juga akan diajak merenung, melakukan refleksi tentang kehidupan serta dihibur dengan cerita-cerita unik. Setelah itu, kita akan merasakan cerita yang kelam danm menyebalkan untuk mengabaikan semua itu dan menikmati kehidupan yang kita miliki.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10254″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]3. Seperti Roda Berputar
Buku karya Rusdi Mathari yang diterbitkan di Buku Mojok ini hanya berisi 11 tulisan yang dijadikan satu buku dengan tebal 80 halaman. Buku ini berisi catatan yang ditulis Rusdi selama berada di Rumah Sakit, ya beliau menderita kanker di bagian punggung.
buy canadian acyclovir online https://mabvi.org/wp-content/languages/new/canadian/acyclovir.html no prescription
Selama di rumah sakit beliau hanya tiduran saja dan di atas ketidakberdayaannya itu menulis catatan menggunakan tablet pemberian temannya. Catatan selama di rumah sakit ini tak hanya berisi kesedihan atau ceracau tentang sakit dan kematian, tetapi juga berisi cerita-cerita lucu yang melintas di hadapan penulis.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10251″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]4. Sebuah Seni untuk Memahami Kekasih
Buku yang ditulis Agus Mulyadi ini membuat pembaca tertawa atau setidaknya tersenyum, seharusnya buku ini bercerita tentang kisah romantis. Sebab, buku ini merupakan catatan selama Agus menjalin kasih dengan Kalis yang kemudian dinikahinya. Namun, kisah romantic tipis-tipis itu pun ditutupi komedi karena Agus memang pandai merangkai tulisan yang lucu. Sejak bab pertama kita sudah disuguhi cerita lucu nan pilu.
Sekarang Agus bercerita tentang Kalis yang baru belajar naik sepeda motor, ini bermula saat Kalis hendak mengisi bahan bakar di SPBU. Saat mematikan mesin dan turun dari motor, Kalis memasukkan kunci ke lubang jok yang ada di sisi samping bagian belakang. Kalian bisa membaca buku ini untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]5. Lelaki Tua dan Laut oleh Ernest Hemingway
Buku ini merupakan buku yang memenangkan Hemingway penghargaan Pulitzer dan Nobel. Tentu saja, buku ini hanya memiliki sekitar 127 halaman dan menceritakan seorang nelayan tua dari Kuba, Santiago yang tidak menangkap apa pun selama 84 hari pelayarannya. Hal ini membuat asisten setianya yang Bernama Manolin terpaksa pergi dan mengambil pekerjaan lain. Hingga pada hari ke-85, nelayan itu membawa perahunya ke perairan baru dan membiarkan umpan tenggelam ke dasar laut.
Saat seekor ikan marlin raksasa mengggit umpan, pertarungan fisik antara lelaki tua dan ikan itu pun dimulai. Penulis membantah telah menempatka simbolisme eksplisit dalam karya-karyanya dan lebih senang membiarkan pembaca menemukan maknanya sendiri. Kemampuan Lelaki Tua dan Laut untuk melahirkan interpretasi membuatnya popular sejak pertama kali dipublikasikan pada tahun 1952.
Baca juga: Resensi Buku Curanmor GOJEK[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10250″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]6. Orang Asing oleh Albert Camus
Buku berjudul Orang Asing ini bercerita tentang seorang pria Bernama Meursault yang ibunya baru saja meninggal, di mana pada saat pemakamannya dia tidak menunjukkan emosi sama sekali. Lalu, Mersault terlibat dalam konflik saat membantu temannya untuk membalas dendam pada orang Arab yang tak setia padanya. Namun, hal ini menjadi boomerang baginya, tanpa alasan yang jelas ia menembak seorang pria Arab sampai mati.
Hingga ia dibawa ke pengadilan, tetapi di sana ketidakpedulian dan ateisme Mersault membuat semua orang yang hadir di sana marah dan ia dijatuhu hukuman mati. Di saat menunggu mati, Mersault menyadari kalau dunia yang ditinggalinya sangat dingin, tetapi ia masih mencoba menemukan kenyamanan dalam ketidakpedulian dunia yang lembut. Karya ini bermakna filosofis yang sarat akan pemikiran eksistensialisme, sehingga membutuhkan lebih dari sekali duduk untuk memahami maknanya.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10253″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]7. Bagaimana Cara Mengatakan “Tidak”?
Buku karya Raisa Kamila yang berukuran 13×19 cm dengan jumlah halaman 150 ini berisi sepuluh cerita pendek yang merupakan kisah para perempuan. Ya, buku ini bercerita tentang kisah para perempuan yang hidup dalam situasi serba tidak pasti. Perihal berpindah, kerabat yang lenyap, peralihan rezim, konflik sosial, menjadi eksil sehiingga terjebak dalam hubungan beracun bisa dikatakan sebagai ketidakpastian atau bisa dikatakan kesialan hidup.
Namun, Raisa menggambarkan situasi tidak nyaman dan sesekali mencekam dari cerita sederhana mengenai ingatan masa kecil atas peristiwa mali lampu. Gadis kecil yang memeram gigi tanggalnya, sekolah mewajibkan seragam berjilbab, murid pindahan tak punya teman, hingga mobil angkutan yang bannya pecah di tengah jalan menanjak. Buku kumpulan cerpen ini berisi cerita yang unik dan luar biasa meski menyajikan hal-hal ganjil dalam keseharian yang tidak hanya dialami dan dipahami orang-orang dewasa.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][us_single_image image=”10252″][/vc_column][/vc_row]




Saya juga lagi suka buku kecil aja yang nggak terlalu tebal atau lebih banyak ilustrasi. Karena namanya ibu-ibu sekarang waktu me timenya sedikit jadi nggak bisa terfokus baca buku lama-lama. Makasih rekomendasinya mbak ^^
Sedih ya, ternyata masyarakat kita masih rendah daya bacanya
Terima kasih artikelnya mbak.
Saya lihat di profilnya, salah satu profesi mbak selain bloger dan lain-lain adalah guru Bahasa Indonesia ya. Oleh karena itu saya ingin nanya mbak, apa ada rekomendasi buku tata bahasa Indonesia yang recommended untuk dimiliki?
Karena saya sudah membaca bolak-balik PUEBI dan merasa apa yang tertulis di sana kurang mengcover kebutuhan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, atau lebih tepatnya memerlukan penjelasan lebih lanjut.
Satu contoh adalah penggunaan huruf kecil pada judul, akan tertulis “di, ke, dari, dan, yang, untuk” saja sementara bagaimana dengan “ini, itu, selain, bukan. tidak, ..” dan banyak lagi.
Terima kasih atas kesempatannya menulis komentar dan bertanya di blog ini.